Pukul 03.03. Mata terbuka sendiri sebelum alarm sempat berbunyi.

Keluar kamar — bintang masih ada. Bimasakti masih di tempat yang sama seperti semalam. Crux masih tenang di selatan. Tapi ada yang beda, dan saya langsung merasakannya begitu mata menyapu cakrawala.
Bumi sudah bangun.
Cahaya-cahaya kecil berpendar di bawah sana. Lampu teras, lampu jalan, warung yang mulai buka. Nyepi resmi selesai, dan polusi cahaya merayap kembali seperti air yang mengisi wadah — perlahan, tapi pasti. Langit semalam dan langit malam ini secara astronomi persis sama. Tapi rasanya jauh sekali bedanya.
Saya masuk kamar dengan agak enggan, ambil kamera, Dwarf 3, tripod. Kali ini lebih siap — kabel release ikut dibawa supaya kamera bisa ditinggal jalan sendiri sementara tangan ngurusin yang lain.
Seprei Putih
Setingan sama seperti semalam. Manual, 15 detik, f/2.8, ISO 6400. Jari pencet shutter, bunyi kamera terdengar renyah.
Hasilnya putih benderang kayak seprei.
Pantulan lampu ke langit ternyata lebih agresif dari yang saya kira. Terpaksa di-underexpose lumayan banyak sampai tidak overblown lagi — tapi konsekuensinya, cahaya Bimasakti yang sudah redup itu makin susah ditangkap sensor. Ini yang bikin astrofotografi di dekat kota jadi frustrasi: sensor kamera tidak bisa milih-milih foton. Cahaya bintang dan cahaya lampu jalan diperlakukan sama. Begitu sky glow dari kota cukup terang, sinyal Bimasakti tenggelam sebelum sempat terekam — seperti mencoba mendengar bisikan di tengah keramaian.
Semalam, waktu Bali padam total, langit itu bersih. Malam ini, dengan kunang-kunang lampu yang sudah kembali, galaksi yang sama terasa jauh dan samar.

5%
Setelah urusan eksposur selesai, saya beralih ke Dwarf 3 — masih ada penasaran yang tertinggal dari semalam soal autofocus yang gagal. Semalam saya asal tebak. Tadi siang saya sudah menonton referensi di YouTube, dan sekarang saya tahu di mana salah saya.
Saya arahkan Dwarf, buka aplikasi, mulai proses autofocus—
Indikator baterai berkedip. Lima persen.
Saya menatap layar handphone beberapa detik. Lalu tertawa sendiri dalam gelap.
Ya sudah. Dwarf kembali ke kamar, mengisi daya, dan saya kembali ke dua kamera yang masih setia di atas tripod.
Langit yang Sama
Crux masih di selatan. Bimasakti masih ada. Secara astronomi tidak ada yang berubah dari semalam ke malam ini — bintang-bintang itu sudah di sana jauh sebelum Bali ada.

Yang berubah cuma seberapa banyak kita membiarkan diri melihatnya.
Nyepi tanpa sengaja membuktikan satu hal: ketika manusia berhenti sejenak, langit kembali. Bukan langit yang berbeda — tapi langit yang sama yang selama ini tersembunyi di balik cahaya kita sendiri.
Malam ini mengingatkan saya bahwa kalau mau hasil yang lebih serius, perlu cari lokasi lain. Bukit yang lebih sepi. Desa yang lampunya belum banyak. Tempat di mana sky glow belum sampai.
Pencarian berikutnya sudah mulai terbentuk di kepala — bahkan sebelum matahari pertama pasca-Nyepi muncul di timur.