Nyepi bagi kalender Bali bukan sekadar hari diam — ini pergantian tahun. Dan seperti tahun baru pada umumnya, ia datang membawa sesuatu yang baru.
Malam setelah Nyepi, langit tidak segelap kemarin. Tapi begitu matahari benar-benar pergi, bintang mulai bermunculan satu per satu — pelan, seperti penonton yang mengisi kursi sebelum pertunjukan dimulai. Tidak seeksotis semalam, tidak ada lautan bintang yang membuat dada sesak, tapi ada. Dan di selatan, empat titik cahaya membentuk layang-layang kecil yang saya sudah hafal bentuknya: Crux, si Salib Selatan, setia seperti biasa.
Milky Way belum muncul di jam segitu. Jadi saya putuskan untuk mengisi waktu dengan urusan yang tertunda — Orion Nebula. Orion sudah ada sejak tadi di langit, tapi malam sebelumnya saya tidak sempat mengabadikannya dengan Dwarf 3 — jadi malam ini giliran si nebula merah itu masuk antrian.
Table of Contents
Kalah sama Kambing Hitam
Nyepi kemarin, saya gagal total dengan Dwarf 3. Bukan karena tidak ada bintang — langit malam itu justru penuh. Masalahnya lebih sederhana dan lebih memalukan: gelap total bikin semua proses seting jadi kacau. Tidak bisa baca layar dengan nyaman, tidak bisa orientasi arah dengan yakin, tidak bisa fokus. Semua serba kira-kira di tengah kegelapan yang benar-benar pekat.
Berbekal beberapa video YouTube, malam ini saya coba lagi dari awal dengan setingan EO — Equatorial Mode, yang memungkinkan Dwarf mengikuti rotasi bumi sehingga eksposur bisa lebih panjang dari 15 detik default-nya.

Seting Kalibrasi di Belahan Selatan
Satu hal yang bikin pusing awal-awal: hampir semua panduan Dwarf 3 dibuat untuk pengguna belahan bumi utara. Sedangkan kita di Indonesia — di bawah khatulistiwa, belahan selatan. Arah yang jadi acuan beda, rasi bintang yang jadi patokan beda.

Tapi ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Garis besarnya begini:
- Ratakan tripod — ini yang paling penting, tidak boleh miring
- Arahkan satu kaki tripod ke selatan — bisa pakai aplikasi kompas, atau pakai Crux: tarik garis dari bintang paling atas ke paling bawah, perpanjang ke bawah, di sanalah titik selatan sejati
- Pasang Dwarf dengan bagian bertulisan menghadap utara, lalu rebahkan sekitar 9 derajat untuk posisi di Bali — hampir tengkurap, tapi ada sudut kecil
- Aplikasinya nanti akan memandu sendiri: perlu diputar searah jarum jam atau berlawanan, perlu dinaikkan atau diturunkan berapa derajat
Saya kemarin pakai ilmu kira-kira. Hasilnya meleset sekitar 2 derajat — masih bisa jalan, tapi kalau mau presisi sebaiknya pakai kompas handphone yang layak atau alat ukur. Kemarin saya tidak mau buang waktu karena awan sudah mengintip di horizon seperti biasanya.
Filter di Dwarf 3

Malam ini saya pakai dual filter, bukan mode visual atau astro biasa. Ketiganya punya karakter berbeda:
Mode Visual adalah seperti melihat langsung dengan mata — apa adanya, tanpa manipulasi panjang gelombang. Bagus untuk objek terang seperti bulan atau planet, tapi untuk nebula yang redup hasilnya kurang nendang.
Mode Astro membuka eksposur lebih lama dan lebih sensitif terhadap cahaya redup, cocok untuk galaksi dan gugus bintang. Tapi tetap menangkap semua panjang gelombang termasuk polusi cahaya.
Dual Filter — inilah yang spesial untuk nebula. Filter ini hanya meloloskan panjang gelombang tertentu, terutama cahaya emisi hidrogen (H-alpha) dan oksigen (OIII) yang dipancarkan nebula. Polusi cahaya kota mayoritas tidak masuk panjang gelombang ini, jadi hasilnya jauh lebih kontras dan bersih — nebula yang tadinya tenggelam di noise tiba-tiba bisa “muncul” dari kegelapan.
Untuk Horsehead Nebula yang sangat redup, dual filter bukan pilihan — ini keharusan.
Si Kepala Kuda Akhirnya Muncul

Percobaan pertama: Orion Nebula. Tiga puluh detik, gain 80, dual filter. Di layar preview handphone, kabut merah tipis mulai muncul di antara bintang-bintang Orion. Berhasil. Tidak sempurna, tapi berhasil.
Kemudian saya pindah ke target utama.
Di Dwarf, setiap kali ganti objek, kalibrasi fokus perlu diulang — tapi mudah, tinggal pilih autofocus dan biasanya langsung terkunci.
Saya arahkan ke Horsehead Nebula.

Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan mencoba — siluet itu muncul. Samar, masih seperti bayangan di balik kaca yang berembun. Tapi bentuknya ada. Kepala kuda itu ada, mendongak di antara cahaya nebula di belakangnya, persis seperti yang selama ini cuma saya lihat di foto orang lain.
Wow.
Saya baru sadar mengapa semua percobaan sebelumnya gagal: saya tidak pernah pakai mode EO, jadi eksposur mentok di 15 detik. Horsehead terlalu redup untuk 15 detik. Dengan 30 detik dan dual filter, ia akhirnya mau menunjukkan diri.
Menjelang setengah sebelas, baterai handphone sisa 10%. Saya berkemas dengan perasaan yang susah dijelaskan — bukan puas sepenuhnya, karena detailnya masih kurang, tapi ada sesuatu yang terpenuhi setelah lama menunggu.
Malam-malam berikutnya masih ada. Orion belum sepenuhnya pergi. Dan kali ini saya sudah tahu caranya.