Bagi astrofotografer konvensional, bulan terang adalah musuh bebuyutan, cahayanya memenuhi langit, menenggelamkan warna-warna galaksi sebelum sempat terekam sensor. Perencanaan pemotretan selalu dimulai dari kalender lunar: cari tanggal selepas bulan sabit tua, paling bagus pas bulan mati, lanjutkan sampai bulan sabit muda. Di luar jendela itu, lebih banyak fokus ke foto malam hari tapi fokus pada pemandangan, cahaya terang bulan malah bisa jadi soft box yang ciamik.

Tapi itu dulu.
Dwarf 3 dengan dual filter-nya mengubah kalkulasi itu. Filter yang hanya meloloskan panjang gelombang emisi nebula ternyata cukup efektif memblokir sebagian besar cahaya bulan, bahkan di malam purnama sekalipun, objek-objek langit masih bisa diabadikan. Musuh bebuyutan itu sekarang hanya jadi gangguan kecil yang bisa disiasati.
Sayangnya, ada satu hal yang tidak bisa diblokir filter mana pun.
Awan.
Lima Kali Keluar Masuk
Malam kemarin adalah ujian kesabaran.

Langit berubah terlalu cepat untuk bisa diantisipasi, cerah, lalu dalam waktu kurang dari lima menit sudah tertutup awan tebal. Bukan sekali, bukan dua kali. Lebih dari lima kali saya keluar masuk kamar dengan siklus yang sama: pasang tripod, kalibrasi Dwarf, arahkan ke target, mulai merekam , dan sebelum frame kesepuluh terkumpul, langit sudah putih.

Satu kali bahkan sempat hujan. Beruntung Dwarf tidak sempat saya tinggal di luar sendirian.
Di tengah drama itu, beruntung masih bisa dapat dua objek berhasil masuk penyimpanan sebelum saya akhirnya menyerah. Bukan menyerah karena kalah, lebih karena tubuh punya batasnya sendiri, dan langit malam itu jelas sudah punya rencana lain.
Awan memang tidak bisa disuap, tidak bisa dinegosiasi, tidak bisa dipaksa minggir. Ia datang dan pergi sesukanya, serah-serah gua kapan mau muncul kapan mau hilang. Mungkin tepat setelah saya masuk kamar dan menutup mata, langit terbuka lebar dan bertabur bintang sampai subuh. Who knows.
Tapi tidak apa-apa.
Masih banyak malam di depan. Masih banyak objek di daftar yang belum dicentang. Dan di antara semua pelajaran yang diajarkan astrofotografi, yang paling penting mungkin ini: sabar bukan kelemahan, itu satu-satunya cara untuk bertahan di hobi ini.
Malam berikutnya pasti datang. Dan langit, pada waktunya, selalu akhirnya bersih juga.
Clear skies, endless stories