Table of Contents
Antara PanSTARRS yang Menjanjikan dan MAPS yang Tidak Sempat Berpamitan
Beberapa hari terakhir grup-grup astronomi di media sosial lebih ramai dari biasanya.
Dua komet sekaligus melintas di langit April ini, kejadian yang tidak terlalu sering datang bersamaan. Dan seperti biasa, langit Bali punya pendapatnya sendiri soal seberapa banyak yang boleh saya saksikan.
A1 MAPS, Komet yang Pergi Tanpa Pamit
C/2026 A1 (MAPS) adalah komet yang sejak awal sudah menyimpan drama. Ditemukan pada Januari 2026 oleh tim survei MAPS dari Observatorium Atacama, ia adalah Kreutz sungrazer , komet yang lintasannya membawa ia sangat dekat ke permukaan matahari, hanya sekitar 161.000 km jaraknya saat perihelion pada 4 April lalu. Jarak yang hampir bunuh diri.
Nukleusnya hancur saat perihelion. Komet A1 MAPS yang selama berminggu-minggu membuat komunitas astronomi berdebar-debar kini sudah tidak lagi terlihat, hancur sebelum sempat menampakkan diri dengan sempurna di langit malam.
Saya yang sudah beberapa kali nongkrong di pinggir pantai menunggu di ufuk barat, yang ada hanya awan tebal yang tidak mau minggir. Mungkin semesta melindungi saya dari kekecewaan yang lebih besar: bahwa tidak semua rencana harus terlaksana.
C/2025 R3 PanSTARRS, Masih Ada Harapan
Satu komet pergi, satu komet lainnya justru sedang menuju puncaknya.
C/2025 R3 (PanSTARRS) ditemukan pada 8 September 2025 oleh sistem teleskop PanSTARRS di puncak Haleakalā, Hawaii. Ini adalah komet hiperbolik dari Awan Oort, artinya ia datang dari ujung terluar tata surya, menempuh perjalanan miliaran kilometer, dan ini mungkin pertama dan terakhir kalinya ia melintas dekat matahari.
Perihelionnya jatuh pada 19 April 2026 , masih dua minggu lagi.
Perkiraan kecerlangannya cukup membuat bergairah:
- Skenario baseline: magnitude 2,8, cukup terang untuk dilihat mata telanjang di langit gelap
- Skenario optimis: magnitude 1,0, menyaingi kecerlangan planet Jupiter
Ada fenomena menarik yang bisa mendongkrak kecerahannya: forward scattering. Karena komet ini akan bergerak di antara bumi dan matahari menjelang akhir April, ekornya akan memantulkan dan menyebarkan cahaya matahari langsung ke arah bumi, efek yang bisa membuat komet jauh lebih terang dari prediksi normal.
Hari ini, 7 April, PanSTARRS diperkirakan masih berada di kisaran magnitude 5-6 , sudah bisa ditangkap dengan binokuler atau teleskop kecil, dan terus menuju puncaknya.
Pagi Ini di Selasar
Sudah tiga hari ini setiap pagi saya memposisikan Dwarf 3 ke arah PanSTARRS. Tantangannya tidak kecil: komet ini baru muncul dari balik kaki langit sekitar pukul 5 kurang, dan jendela kerjanya hanya sekitar 30 menit sebelum cahaya fajar membuat langit terlalu terang untuk astrofotografi.
Setengah jam. Tidak lebih.
Ditambah awan yang selalu suka bergerombol tepat di arah yang ingin difoto, seolah mereka punya intelijen sendiri soal ke mana lensa diarahkan.

Pagi ini semesta akhirnya cukup berbelas kasih. Dwarf sudah terpasang dalam mode EO sejak sebelum pukul 5, tracking ke koordinat PanSTARRS, supaya begitu komet muncul dari kaki langit, kamera sudah siap tanpa perlu kalibrasi ulang.

Dan dari ketinggian kurang dari 10 derajat di atas horizon, saya mulai menekan tombol rekam.
41 frame dengan setingan 15 detik, gain 60. 31 frame dengan 30 detik, gain 60. Total 72 frame dari jendela 30 menit yang tidak bisa ditawar itu.

Setelah di-stack sederhana di Siril, inilah Komet C/2025 R3 PanSTARRS, tamu dari ujung tata surya yang sedang dalam perjalanan menuju titik terdekatnya dengan matahari.
Masih ada dua minggu menuju perihelion. Masih ada kesempatan untuk mendapatkan frame yang lebih baik, dari posisi yang lebih tinggi, dengan lebih banyak waktu sebelum fajar mengambil alih.
PanSTARRS belum selesai bercerita.
Clear skies, endless stories.