Pukul 2.30 WITA. Mata terbuka, meangkah ke luar kamar, mendongak ke atas.
Langit bersih. Bintang di mana-mana.
Saya kembali ke kamar, mengambil tas, tripod, dan satu tambahan malam ini: SkyWatcher Star Tracker. Dua tripod naik ke selasar, berdiri berdampingan seperti pasangan yang sudah terbiasa bekerja bersama. Langit masih punya tiga jam lebih sebelum matahari mengambil alihnya, terasa seperti kemewahan.
Terasa.
Prank Pertama: M9 yang Rewel
Dwarf 3 saya arahkan ke M9, gugus bola di Ophiuchus yang dari posisi malam ini seharusnya cukup terjangkau. Tapi entah kenapa malam ini Dwarf sedang tidak mau diajak bekerja sama. Tiga kali percobaan, tiga kali gagal stacking. Tidak ada pesan error yang jelas, tidak ada petunjuk apa yang salah, hanya diam dan tidak menghasilkan apa-apa.
Astrofotografi memang kadang begitu. Tidak semua kegagalan punya penjelasan yang memuaskan.
Saya lepaskan M9, pindah ke target berikutnya. Dwarf akhirnya mau berjalan.
Sementara Itu, Transformer Bekerja

Selagi Dwarf tracking objek berikutnya, perhatian beralih ke SkyWatcher. Kalibrasi seadanya seperti biasa, kompas manual, arah selatan dikira-kira, deklinasi 8 derajat untuk posisi Bali.
Lensa di FL 100mm, test 20 detik. Bintang tidak banyak bergerak, kalibrasi kasar malam ini cukup toleran.
Saya arahkan ke area Sagitarius. Di layar LCD, samar-samar terlihat bercak tipis di antara bintang-bintang padat inti Bimasakti, Trifid Nebula, kabut tiga lobus yang terbelah seperti luka oleh jalur debu gelap. Redup, hampir tidak terlihat tanpa filter, tapi ada.
Continue shoot diaktifkan, kabel release dikunci. Transformer bekerja sendiri.
Saya kembali ke aplikasi Dwarf untuk memindah target berikutnya, fokus saya ke layar handphone di aplikasi dwarf. Dan setelah kepala mendongak ke atas, langit berubah putih.
Tidak bertahap. Tidak perlahan. Awan tiba-tiba memenuhi langit seperti tirai yang ditarik dari kedua sisi sekaligus. Dalam hitungan menit, dari bersih menjadi putih tertutup.
Kabel release di kamera dilepas. Tidak ada gunanya menunggu.

Tidak Zonk Sepenuhnya
Saya duduk sebentar, menunggu, siapa tahu awan hanya lewat. Tapi tidak ada tanda-tanda langit mau membuka lagi. Akhirnya peralatan dilipat, naik ke kamar, lanjut tidur.
Tapi Dwarf rupanya sempat bergerak cukup cepat sebelum awan datang. Tujuh objek berhasil masuk penyimpanan malam ini:

M9, gugus bola di Ophiuchus yang tadi rewel di awal, akhirnya berhasil juga terekam

M14, gugus bola padat yang bintang-bintangnya terlihat lebih rapat dari rata-rata

M18, gugus terbuka kecil di Sagitarius, terjepit di antara nebula-nebula terang di sekitarnya

M19, salah satu gugus bola paling gepeng di katalog Messier, bentuknya sedikit oval karena posisinya dekat pusat galaksi

M22, gugus bola terang di Sagitarius, salah satu yang pertama kali diidentifikasi mengandung nebula planet di dalamnya

M24, bukan gugus biasa, tapi jendela langka menembus debu Bimasakti, area padat bintang yang sebenarnya adalah bagian lengan spiral galaksi kita sendiri, terlihat langsung karena ada celah tipis di awan debu yang biasanya menghalangi

M62, gugus bola asimetris di Ophiuchus, bentuknya tidak bulat sempurna karena tarikan gravitasi pusat galaksi yang terasa lebih kuat di sisinya yang lebih dekat
Tidak zonk. Tapi juga tidak seperti yang dibayangkan ketika dua tripod berdiri gagah di selasar pukul 2.30 tadi.
Malam ini langit memberi, lalu mengambil kembali, seperti biasanya.
Clear skies, endless stories.
untuk update obyek Messier yang sudah terekam bisa dilihat di Update Messier