Bali, Pukul 4 Pagi, dan Sebuah Nebula

Saya selalu heran dengan foto-foto nebula yang beredar di internet. Kabut tipis berwarna merah dan ungu yang tampak seperti lukisan — bagaimana orang bisa mendapatkan hasil seperti itu? Dari mana mulainya?

Pertanyaan itu yang akhirnya mendorong saya seharian kemarin duduk di depan layar, mencari panduan workflow editing di Siril — software khusus untuk memproses foto astrofotografi. Dibilang mudah tidak, karena namanya mencoba hal baru. Tapi beruntung komunitas online pengguna Dwarf 3 cukup dermawan berbagi ilmu. Saya akhirnya menemukan panduan step-by-step yang ditulis Glenn Moloney di grup Facebook DWARF II III and Mini Owners — lengkap, runtut, dan dia sendiri bilang di awal: kesannya ribet, tapi setelah beberapa kali mencoba pasti akan paham.

Saya juga minta bantuan Claude untuk menyederhanakan workflow Glenn menjadi versi yang benar-benar ramah pemula. Dulu selepas COVID saya pernah sebentar berkenalan dengan Siril waktu mulai mengoprek kamera 450D untuk astrofotografi di Gunungkidul — tapi setelah itu lupa total. Jadi memang mulai dari nol lagi.

capturing milky way

M8 — Nebula yang Cahayanya Lebih Tua dari Peradaban Manusia

Target malam ini: Nebula Laguna , atau M8, atau NGC 6523 — tiga nama untuk satu objek yang sama. Sebuah awan gas dan debu kosmik di rasi bintang Sagitarius, tempat bintang-bintang baru lahir di tengah kabut yang menyala.

Jaraknya dari bumi? Sekitar 4.000 hingga 6.000 tahun cahaya.

Satu tahun cahaya saja sudah 9,46 triliun kilometer — jarak yang ditempuh cahaya selama satu tahun penuh, bergerak 299.792 km per detik. Dalam satu detik, cahaya sudah keliling bumi 7,5 kali. Sekarang kalikan itu dengan 4.000 tahun.

Angkanya tidak lagi masuk akal untuk dibayangkan secara langsung, jadi coba begini: jarak bumi ke bulan sekitar 384.400 km — sudah terasa jauh. M8 ada sekitar 123 miliar kali lebih jauh dari itu. Kalau kita terbang ke sana dengan pesawat Jakarta-Amsterdam, kita butuh waktu hampir 7 miliar tahun — lebih tua dari tata surya kita sendiri.

Dan yang paling membuat kepala sedikit pusing: cahaya dari matahari butuh 8 menit untuk sampai ke bumi. Cahaya M8 butuh 4.000 hingga 6.000 tahun. Artinya yang saya tangkap di sensor Dwarf 3 malam ini bukan gambaran M8 sekarang — tapi cahaya yang sudah melakukan perjalanan sejak zaman manusia baru belajar menulis sejarah, jauh sebelum Borobudur ada, sebelum kerajaan-kerajaan Nusantara lahir.

Astrofotografi, dalam arti tertentu, adalah memotret masa lalu.

lagoon nebula

76 Frame, 38 Menit, Pukul 4 Pagi

Saya mengambil data M8 dalam dua sesi:

  • 73 frame — eksposur 30 detik, gain 100
  • 3 frame — eksposur 30 detik, gain 80

Total 76 frame, sekitar 38 menit pengambilan data, dari atas selasar kost saya sekitar pukul 4 pagi.

Proses di Siril mengikuti workflow Glenn Moloney memang bikin grogi di awal — ada banyak langkah, ada istilah-istilah yang asing. Tapi dia benar: setelah diikuti satu per satu, ternyata bisa. File light dan dark dari Dwarf 3 diproses, di- stack , dikoreksi, dan perlahan dari tumpukan frame-frame mentah itu muncullah sesuatu.

Memproses Nebula menggunakan Siril

Kabut merah tipis. Awan gas yang berpijar. Nebula Laguna, difoto dari lantai atas sebuah kost di Bali, dengan teleskop mungil seukuran botol minum.

Saya masih tidak sepenuhnya percaya itu berhasil.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top