Senja di batas kota
Senja di batas kota
Slalu teringat padamu
Saat kita kan berpisah
Entah untuk berapa lama
Senja di batas kota
Slalu teringat padamu
Saat kita kan berpisah
Entah untuk berapa lama
Beberapa rencana perjalanan di tahun 2015 yang mudah-mudahan bisa terlaksana. Perjalanan dengan membawa kamera, mengalami pengalaman dari balik lensa
Walau baru menggunakan sekitar 2 minggu, tapi saya yakin lensa 16-35 F/4 yang baru dikeluarkan oleh canon tahun lalu ini merupakan salah satu lensa idaman para landscaper dan juga traveler.Lensa idaman untuk landscape buat saya adalah lensa yang mempunyai sudut lebar, tajam, ringan sehingga bisa dibawa untuk perjalanan jauh, mempunyai kemampuan untuk menggunakan filter. Pilihan untuk mengorbankan lensa bukaan lebar dengan berat yang ringan dan tentunya harga yang lebih bersahabat menjadi salah satu kriteria penting juga.
Sebelum keberangkatan ke Kamboja kemarin, lensa canon 24-105 L f/4 saya ngadat. Error 01 kalau ndak salah ingat. Kontak dengan kostumer servis Canon diminta coba untuk membersihkan bagian konektor antara lensa dengan bodi. Tapi untuk kasus lensa 24-105 kali ini kemungkinan bukan masalah konektor lensa nya, karena saya coba bersihkan juga masih problem. Selain itu ketika membaca beberapa masalah yang ternyata banyak terjadi dengan lensa 24-105 L ini adalah masalah pada kabel aperturenya. Kecewa sih sekelas lensa L ternyata tidak sampai dua tahun sudah perlu diservis. Bandingkan dengan canon 10-22 mm yang saya gunakan dari tahun 2009 sampai sekarang masih tidak ada problem. Itupun saya rasa penggunaan yang agak abusive karena beberapa kali harus berbasah ria ketika memotret air terjun. Sampai sekarang masih belum tahu nanti kalau di servis kena biaya berapa.
Selamat Pagi Indonesia !!!
Tak terasa sudah dua minggu ini adminnya LI tidak bisa menebar racun keindahan alam Indonesia karena nge trip ke beberapa negara tetangga. Mohon maaf untuk itu. Tapi mulai hari ini sudah bisa kok kembali update website dan facebook nya LI. Bahkan sudah ada beberapa ide perjalanan untuk menikmati indahnya alam Indonesia.
Hahaha.. judulnya aneh kan, pano Bromo yang Benar tapi gagal.. apa pula itu maksudnya 😀
Penasaran ndak ? kalau penasaran silakan dibaca lebih lanjut ya.. kalau ndak penasaran lewati saja artikel ini, soalnya agak sebel campur seneng saja lihat foto ini
Sepanjang siang cuaca masih belum berubah, kabut masih menutupi desa Cemoro Lawang. Tapi kurang begitu berpengaruh juga sih soalnya selepas makan siang juga aktivitasnya tiduran merehatkan tubuh setelah malam sebelumnya sempat begadang. Sore hari juga masih belum berubah. Sembari ngemil biskuit dan menunggu matahari terbenam di salah satu sudut kebun, tapi ternyata mendung dominan membuat sore itu menjadi kelabu.
Perjalanan ke Bromo kemarin memang membawa banyak misi untuk proyek pribadi. Yang utama memang mengabadikan keindahan milky way di atas gunung bromo (DONE !), mencoba pano head buatan sendiri (DONE), mencoba intervalometer (GAGAL) dan tentunya refreshing.
Seperti sudah pernah dibahas di Mencoba Pano (edisi 1), keinginan untuk memotret pemandangan dalam format lebar menggunakan pano head. Setelah sempat browsing dan mencari referensi akhirnya diputuskan untuk mencoba membuat sendiri pano head single row. Prinsip dasar dari memotret panorama adalah sumbu putar harus sesuai dengan sumbu lensa. Kalau cuma diletakan di tripod saja, maka sumbu pada tripod tidak akan sama dengan sumbu pada lensa.
Setelah selesai tugas pendokumentasian event sepedaan untuk beberapa teman di Bromo, sekarang saatnya untuk menikmati waktu menikmati keindahan alam dengan lebih perlahan. Saatnya hunting pemandangan malam di Bromo.. yippiiii
Sudah dari sejak punya kamera poket canon G5 sebenarnya mencoba pano (foto yang digabung menjadi satu bagian). Terkadang hanya dengan