Foto

Blog, Foto, NTT, Perjalanan

Flores chapter empat : (Mendadak) Workshop Bima Sakti

Sore hari, kami berempat, Ferdi, om Alfons, om Iskar, ngobrol ringan mengenai hobi memotret kami. Mulai dari lensa hingga ke tripod. Dari tempat-tempat indah buat hunting pemandangan alam di Flores hingga kapan mau hunting sunrise bersama.

Sekitar pukul 7 malam kami beringsut keluar untuk melihat langit yang malam ini dipenuhi bintang. Ferdi, yang siang tadi saya kasih lihat foto bima sakti yang saya ambil malam sebelumnya dari balik pagar mempunyai ide untuk mencoba memotret bima sakti juga.Saya masuk ke rumah untuk mengambil tripod dan membiarkan Ferdi mencoba memotret bima sakti yang saat itu terlihat membujur di atas kami.

Blog, Foto, NTT, Perjalanan

Flores chapter tiga : sepanjang Maumere menuju Larantuka

Pukul 4 pagi aktivitas di rumah ibu Eet, teman kami di Maumere, sudah berlangsung. Rencana kami pukul 5 sudah memulai perjalanan menuju ke Larantuka.

Langit biru mengantar perjalanan kami menyusuri jalan aspal mulus dari Maumere menuju Larantuka. Menurut informasi dibutuhkan waktu sekitar 3.5- 4 jam perjalanan yang harus kami lewati. Dari peta yang sekilas saya lihat perjalanan ini akan melewati pesisir utara kemudian menyusuri jalan perbukitan dan berakhir di pesisir selatan. Jadi akan ada banyak pemandangan indah di depan kami nanti.

Blog, Foto, NTT, Perjalanan

Explore Flores 2013 : chapter satu

Setelah sempat minggu lalu keliling Lombok, 24 Agustus 2013 hingga awal September besok saya beruntung menjadi panitia salah satu kegiatan workshop di Flores. Maka (seperti biasa) sekalian menggunakan waktu yang ada mencoba untuk menikmati keindahan alam yang ditawarkan pulau Flores dengan cara mengabadikan melalui jepretan kamera. Dari Maumere ke Larantuka dan kemudian kalau waktunya mencukupi akan mengunjungi Kelimutu dan bersnorkeling ria di pulau Babi. Ini tulisan pertama mengenai perjalanan ke Flores tahun 2013 dari entah nanti beberapa tulisan..

Blog, Foto, Perjalanan

Indonesia – Ring of Fire

Dari timur hingga barat kita hidup di bawah bayang-bayang gunung api. Indah tapi membawa pesan hati-hati untuk kita yang tinggal di bawah dekapannya. Apalagi pemandangan indah di sekitarnya selalu menarik untuk diabadikan.Beberapa jepretan gunung yang sempat team Landscape Indonesia abadikan selama perjalanan menyusuri kemolekan alam Indonesia

Blog, Foto, Peralatan, Review

selamat datang big brother !

Sebulan ini kami kedatangan keluarga baru. Setelah sebelumnya lama ditemani kamera canon 450D maka sekarang turut bergabung big brother canon 6D dalam setiap perjalanan. Mungkin ada yang bertanya kenapa kok mengambil 6D, apakah tidak terlalu jauh “meloncat” dari kelas tiga digit ke satu digit ?

Kalau dari pengamalaman sebulan ini menggunakan 6D di lapangan sebenarnya buat saya tidak terlalu jauh banyak perbedaan dengan menggunakan 450D. Mungkin karena sama-sama dari canon ya.. begitu juga dulu ketika dari kamera poket canon G5 ke 450D saya tidak mendapati banyak kesulitan untuk beradaptasi dari poket ke dslr. Pengaturan dan menu-menu menurut saya tidak jauh berbeda.

Saya belum terlalu banyak menggunakan 6D ini untuk pemotretan pemandangan. Baru dicoba dipakai waktu kemping ceria ke Tawangmangu, Selo, Lampung dan Kalimantan Barat minggu lalu

Blog, Foto, Peralatan, Review

test jpg/raw kamera canon 6D

Minggu pagi kemarin mumpung sedang liburan ke Kalisoro, Tawangmangu, Jawa Tengah saya manfaatkan sekalian untuk test kemampuan kamera Canon 6D. Cuaca yang cukup cerah kadang sedikit berkabut cocok untuk mengetes kemampuan dynamic range dari kamera full frame entry level canon ini. Kalisoro sendiri merupakan bumi perkemahan dibawah perhutani. Saya terakhir ke sini jaman smp dulu (eaaa… jadul amat :p ). Masih seperti beberapa puluh tahun lalu, di sekeliling bumi perkemahan dipenuhi dengan pohon pinus dibalut udara segar pegunungan.

Blog, Foto, Kalimantan, Perjalanan

Jangan lagi bawa “buaya” di hutan

Beberapa minggu yang lalu saya kebagian jalan ke beberapa lembaga yang bergerak di pendampingan komunitas masyarakat. Mulai di Jawa Tengah, Jogja hingga ke Kalimantan Barat dan terakhir ke Kalimantan Utara. Untuk beberapa medan datar seperti di persawahan dan perkebunan saya lebih memilih menggunakan sandal buaya yang selain empuk di kaki dan juga tidak khawatir basah bila harus melewati sungai maupun genangan air. Kalau dengan sepatu, terutama bila menggunakan sepatu yang tidak tahan air setiap kali menyeberangi sungai harus memilih antara berbasah2an atau dengan berat hati melepas sepatunya dan kemudian nyeker melintas sungai.

Scroll to Top