Buku Merbabu Pendakian Bertabur Bintang – Review
Buku Merbabu: Pendakian Bertabur Bintang yang awal bulan Mei dirilis Landscape Indonesia (informasi tentang buku Merbabu bisa dilihat lebih detail […]
Buku Merbabu: Pendakian Bertabur Bintang yang awal bulan Mei dirilis Landscape Indonesia (informasi tentang buku Merbabu bisa dilihat lebih detail […]
Buku MERBABU : Pendakian Bertabur Bintang, merupakan catatan perjalanan ke gunung Merbabu melalui jalur Suwanting. Perjalanan di tahun 2015 ini bertujuan untuk mendekatkan diri dengan alam dan juga tentunya mengabadikan keindahan pegunungan baik pagi siang dan tentunya malam hari yang cerah bertaburan bintang.
Barusan dapat kabar menggembirakan dari team revisi, layout dan editing photobook Merbabu sudah kelar.. Yihaaaaa
Hari ini sudah mulai masuk test dummy revisi terahkir, dan mudah-mudahan segera bisa masuk ke proses cetak, yang menurut pihak percetakan butuh waktu kurang lebih sekitar 10 hari
Saya mulai memotret malam kalau tidak salah ingat di awal 2010, kurang dari satu tahun semenjak saya belajar memotret dengan dslr pertama saya, canon 450D.
Dalam setiap perjalanan, asal gelap dan keliatan bintang saya bela-belain untuk memasang tripod dan mulai jeprat jepret. Saat itu tidak terlalu banyak orang yang menyenangi memotret di malam hari, biasanya setelah matahari terbenam rombongan orang yang memotret kemudian bubar jalan, hanya tersisa beberapa orang yang masih menuggu sampai malam tiba.
Pre order sudah ditutup per 28 Februari 2017
Awal Maret masuk ke proses produksi
Pertengahan Maret yang sudah tercatat dalam list pre order akan menerima photobooknya
Akhir Maret kalau tidak ada halangan launching photobook akan dilakukan di Jakarta.
MERBABU : Pendakian Bertabur Bintang, merupakan catatan perjalanan ke gunung Merbabu melalui jalur Suwanting. Perjalanan di tahun 2015 ini bertujuan untuk mendekatkan diri dengan alam dan juga tentunya mengabadikan keindahan pegunungan baik pagi siang dan tentunya malam hari yang cerah bertaburan bintang
Yang suka jalan-jalan pasti juga biasanya bawa kamera kan ?
Dalam pikiran kita jalan-jalan sembari mengabadikan perjalanan dalam foto. Sepulang perjalanan dan melihat-lihat kembali foto foto perjalanan yang sudah terlewatkan.Kita bisa kembali mengulang kenangan perjalanan seakan kita kembali berada di sana
Tak terasa tahun 2016 sudah hampir berakhir, saatnya untuk kembali melihat kilas balik perjalanan yang sudah dilakukan selama setahun ini. Beberapa perjalanan yang terangkum dalam catatan maupun foto yang sudah diunggah di website LandscapeIndonesia.com
Minggu kemarin ketika mendokumentasikan festival makanan tradisional dan kebudayaan di Lanjak, saya mendapatkan banyak racun kamera dan video dari mas Nanang (Indonesia Nature Film Society). Videografer handal yang sudah melalang buana mendokumentasikan perumahan iklim di daerah-daerah terpencil. Salah satu yang langsung nyantol adalah lensa canon 35mm f1.4 mk Iinya.
Beberapa hari yang lalu Solo agak cukup cerah, maksudnya tidak turun hujan, karena memang semingguan ini hampir menjelang sore selalu diguyur hujan. Walau mendung kelabu masih banyak menutupi langit dan kemungkinan kami tidak bisa menyaksikan mentari terbenam di antara siluet gunung Merapi dan Merbabu. Sekalian untuk mencoba kemampuan kamera sony a6000 yang kami beli untuk hadiah ulang tahun ayah saya. O iya, ayah saya yang awal mulanya belajar fotografi dengan kamera analog. Saya salah satu yang sekarang meneruskan hobi memotretnya. Dan karena a6000 ini dipakai ayah saya jadi saya tidak terlalu banyak “mengoprek”nya cuma sekedar menggunakan fasilitas yang ada. O iya artikel ini bukan membahasan secara detail kamera sony a6000 ya, tapi hanya sebatas berbagi cerita penggunaan kamera sony a6000 untuk pemotretan di waduk Cengkli
Setelah beberapa kali percobaan memotret bawah air, ternyata memang semakin kita belajar semakin banyak merasa kekurangan kita. Tidak saja dari segi kemampuan tapi semakin banyak hal-hal baru yang seakan terbuka dan membuat kita merasa ternyata banyak sekali yang harus kita pelajari, terkadang sampai saya merasa, semakin banyak belajar, semakin terasa bodohlah kita #eaa
Salah satu lensa favorit saya untuk memotret orang adalah lensa samyang 35 f/1.4. Saya pernah menulis reviewnya di web Landscape Indonesia 4 tahun yang lalu. silakan di baca di sini:
https://www.landscape-indonesia.com/blog/photo/401-mencari-solusi-memotet-low-light