Dari Puncak, ke Kedalaman, ke Bintang

Ada benang merah yang baru saya sadari belakangan ini.

Bukan benang yang direncanakan — lebih seperti pola yang hanya terlihat kalau kita mundur cukup jauh untuk melihat keseluruhannya.

Table of Contents

Gunung

Dimulai dari gunung, seperti banyak cerita fotografer Indonesia lainnya. Kamera pertama, lensa pertama, foto pertama yang membuat dada berdegup karena hasilnya lebih baik dari yang dibayangkan. Dari satu gunung ke gunung berikutnya — sampai suatu ketika saya membawa dua kamera, dua tripod, empat lensa, pano head, panel surya, charger, dan beberapa baterai cadangan untuk perjalanan tiga hari dua malam di Gunung Lawu. Proyek dokumentasi 360 derajat yang ambisius, dipersiapkan dengan serius.

Kemudian hard disk jatuh dari meja.

Semua file hilang. Tidak ada yang tersisa dari Lawu kecuali ingatannya saja.

Laut

  1. Gravitasi bergeser ke bawah — jauh ke bawah, di bawah permukaan laut. Menyelam, memotret, merekam dunia yang gerakannya lambat dan cahayanya berbeda dari mana pun di darat. Ada sesuatu yang meditatif dari berada di bawah air: tidak ada suara kecuali gelembung napas sendiri, tidak ada distraksi, hanya gerakan pelan dan cahaya yang menari di antara terumbu karang.

Lalu COVID datang, dan laut pelan-pelan dilepaskan.

Vakum

2024 hingga awal 2026 — hampir dua tahun yang terasa seperti jeda panjang yang tidak direncanakan. Kamera lebih sering di dry box daripada di tangan. Mood memotret yang sudah dibangun sejak 2009 terasa seperti api yang kehabisan kayu bakar — masih ada baranya, tapi tidak cukup untuk menyala.

Mungkin lelah. Mungkin juga karena sudah lama tidak menemukan sesuatu yang bisa membangkitkan rasa ingin tahu yang sama seperti pertama kali memegang kamera.

Nyepi

Lalu datanglah satu malam di Bali ketika seluruh pulau memilih untuk padam.

Tidak ada yang istimewa dari langit malam Nyepi secara astronomis — bintang yang sama, galaksi yang sama, nebula yang sama yang ada setiap malam. Yang berbeda hanya satu: untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, saya benar-benar berhenti dan mendongak.

Dan ternyata itu yang selama ini hilang. Bukan objek yang menarik — tapi alasan untuk mendongak.

Sekarang hampir setiap malam kaki ini bergerak sendiri ke luar kamar. Melongok ke atas, membaca langit, mencari titik-titik terang yang masing-masing menyimpan cerita yang usianya miliaran tahun. Dwarf 3 duduk di selasar, menunggu. Daftar 110 objek Messier terbuka di layar handphone, menunggu diisi satu per satu.

Dari puncak gunung yang fotonya hilang bersama hard disk yang jatuh.

Ke kedalaman laut yang pelan-pelan dilepaskan setelah pandemi.

Ke nebula yang cahayanya sudah ribuan tahun dalam perjalanan sebelum sampai ke sensor kamera mungil di selasar kost Bali.

Mungkin ini memang selalu tentang mencari tempat yang cukup sunyi untuk bisa benar-benar melihat. Di gunung, kesunyian itu datang dari ketinggian. Di laut, dari kedalaman. Dan di langit malam — dari kegelapan yang justru membuat segalanya terlihat lebih jelas.

Clear skies, endless stories

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top