M27 – Permata Hijau di Langit Timur Laut

Malam kemarin, langit sengaja mengajak bermain petak umpet.

Cukup cerah untuk membangkitkan harapan untuk keluar kamar, tapi tidak cukup jujur untuk diandalkan. Awan bergerak dari satu sisi ke sisi lain,  begitu Dwarf 3 sudah terkunci tracking ke satu objek, tidak lama kemudian langit di sana tertutup. Pindah ke target lain, awan pindah juga. Seolah mereka tahu persis ke mana lensa diarahkan.

Saya buka Stellarium, mengarahkan handphone ke langit,  membaca posisi objek-objek yang masih punya celah terbuka malam ini. Dan di timur laut, di bawah kaki rasi Vulpecula si Rubah Kecil, ada satu titik yang langitnya cukup bersih: M27, The Dumbbell Nebula.

stellarium M27

Kalibrasi ulang. Dwarf diputar ke arah timur laut. Tracking dimulai.

Permata yang Lahir dari Kematian Bintang

Setelah 10 frame pertama selesai di-stack, sesuatu yang kecil dan menyala muncul di tengah layar.

Hijau cerah. Oval. Bersinar seperti batu permata yang diletakkan di atas beludru hitam,  kecil, tapi kontrasnya terhadap gelap di sekelilingnya membuat mata tidak bisa berpaling. Tidak ada foto yang bisa sepenuhnya menyiapkan kita untuk momen pertama melihatnya secara langsung, bahkan di layar handphone sekalipun.

Ini adalah nebula planet,  bukan berarti ada hubungannya dengan planet, tapi karena bentuknya yang bulat dan kompak mengingatkan para astronom abad ke-18 pada cakram planet ketika dilihat lewat teleskop kecil. Di dalamnya adalah sisa bintang yang sekarat: bintang seperti matahari kita yang sudah kehabisan bahan bakar, melepas lapisan-lapisan luarnya ke segala arah, menciptakan cangkang gas yang menyala dipanasi oleh inti bintang yang tersisa di tengahnya.

M27 adalah nebula planet pertama yang pernah ditemukan manusia,  dicatat oleh Charles Messier sendiri pada 12 Juli 1764. Sebelum M27, tidak ada yang tahu bahwa jenis objek seperti ini ada. Messier menemukannya, mencatatnya sebagai objek nomor 27 dalam katalognya, dan tanpa sengaja membuka kategori baru dalam astronomi.

Jaraknya sekitar 1.360 tahun cahaya dari bumi. Cahaya hijaunya yang sampai ke sensor Dwarf 3 malam ini sudah dalam perjalanan sejak sekitar abad ke-7 Masehi,  ketika Kerajaan Sriwijaya baru saja mulai berkembang di Nusantara.

Mudah Ditemukan, Kalau Tahu Waktunya

Yang menarik dari M27 adalah aksesibilitasnya. Dengan kecerlangan magnitude 7,5 dan diameter tampak sekitar 8 menit busur,  cukup besar untuk ukuran nebula,  objek ini sebenarnya bisa diamati dengan binokuler biasa, tanpa teleskop canggih sekalipun.

Caranya sederhana: bangun pukul 4 pagi, arahkan pandangan ke timur laut, cari rasi Sagitta si Panah kecil, geser sedikit ke utara ke arah Vulpecula. Di sana, di antara bintang-bintang yang terlihat biasa-biasa saja, ada satu titik yang kalau diamati lebih lama terasa berbeda,  sedikit lebih besar, sedikit lebih lembut dari bintang biasa.

Nebula Dumbbell, Messier 27,M27, NGC 6853

Itu M27. Permata hijau yang sudah bersinar di sana jauh sebelum kita ada.

Satu lagi objek dari daftar 110 Messier berhasil dicentang. Petak umpet dengan awan semalam ternyata tidak sia-sia.

Clear skies, endless stories

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top