Ada seorang pria Prancis di abad ke-18 yang sangat terobsesi dengan komet.
Namanya Charles Messier — seorang astronom yang begitu ingin menemukan komet baru sampai ia frustrasi dengan benda-benda langit lain yang terus-menerus mengganggunya. Setiap kali ia mengarahkan teleskopnya, selalu ada kabut-kabut aneh, gumpalan cahaya samar, atau bercak-bercak berdim yang terlihat seperti komet tapi ternyata bukan. Tidak bergerak, tidak kemana-mana, hanya diam di sana mengecoh matanya.

Alih-alih mengabaikannya, Messier melakukan sesuatu yang brilian: ia mendokumentasikan semua “gangguan” itu.
Antara 1758 hingga 1782, ia menyusun sebuah katalog — daftar 110 objek langit yang perlu dihindari oleh para pemburu komet. Ironi terbesarnya: komet-komet yang ia temukan sudah lama dilupakan sejarah. Tapi katalog “pengganggunya” itu justru menjadi salah satu daftar paling ikonik dalam sejarah astronomi amatir, dan namanya abadi di sana — Katalog Messier.
Apa Isi Katalog Messier?
110 objek dalam katalog Messier bukan dari satu jenis yang sama. Mereka adalah:
- Nebula emisi — awan gas raksasa yang menyala, tempat lahirnya bintang-bintang baru. M42 Orion Nebula, M8 Laguna, M20 Trifid — warna-warni merah dan biru yang sering kita lihat di foto astronomi
- Galaksi spiral — galaksi seperti Bimasakti kita, dengan lengan-lengan yang berputar pelan selama miliaran tahun. M31 Andromeda adalah tetangga terdekat kita, 2,5 juta tahun cahaya jauhnya
- Galaksi elips — galaksi tua yang sudah tidak banyak melahirkan bintang baru, bentuknya bulat atau lonjong, penuh bintang-bintang tua berwarna keemasan
- Gugus bola (globular cluster) — ribuan hingga jutaan bintang tua yang bergerombol padat membentuk bola, terikat gravitasi satu sama lain sejak awal alam semesta
- Gugus terbuka (open cluster) — kelompok bintang muda yang lahir dari awan gas yang sama, masih bergerak bersama tapi perlahan akan terpencar
- Nebula planet — sisa-sisa bintang yang sekarat, melepas lapisan luarnya menjadi cangkang gas yang bercahaya indah sebelum akhirnya padam
- Sisa supernova — puing-puing ledakan bintang masif yang cahayanya pernah terlihat bahkan di siang hari
Messier tidak tahu semua itu waktu ia mencatatnya. Ia hanya tahu mereka bukan komet. Butuh berabad-abad setelahnya untuk manusia benar-benar memahami apa yang sedang ia lihat.
Mengapa 110 Objek Messier Istimewa?
Karena semuanya bisa dilihat dengan teleskop kecil — bahkan beberapa bisa dilihat dengan mata telanjang dari langit yang gelap.
Itulah yang membuat katalog Messier menjadi semacam rite of passage bagi astrofotografer amatir di seluruh dunia. Bukan karena mudah — tapi karena cukup terjangkau untuk dilakukan siapa saja, dari mana saja, dengan peralatan yang tidak harus mahal. Ada komunitas khusus yang mengejar Messier Marathon — mencoba mengabadikan semua 110 objek dalam satu malam di sekitar bulan Maret, ketika posisi langit paling memungkinkan.
Saya tidak akan melakukan itu. Terlalu ambisius untuk sekarang.
Proyek 100 Objects Messier
Saya memulai proyek ini dari selasar kost di Bali, dengan teleskop pintar mungil bernama Dwarf 3 dan langit yang tidak selalu bersahabat. Tidak ada target waktu, tidak ada tekanan untuk sempurna. Ini lifetime project — dikerjakan malam demi malam, musim demi musim, dari manapun saya berada, sampai suatu hari nanti semua 110 objek itu sudah pernah singgah di sensor kamera saya.

Dari 110 objek katalog Messier, saya sudah menyusun 43 target prioritas — objek-objek yang paling rewarding untuk difoto dengan peralatan yang saya punya sekarang. Sebagian besar nebula dan galaksi spiral. Sisanya akan menyusul seiring kemampuan dan peralatan yang bertumbuh.
Benih proyek ini sebenarnya sudah ditanam lama — sejak 2010, di Kali Mati dalam perjalanan menuju puncak Mahameru, ketika untuk pertama kalinya saya melihat Bimasakti dengan mata telanjang dan tidak bisa bergerak cukup lama karenanya.
Belasan tahun kemudian, racun itu kembali. Selamat datang di kegelapan malam.
Catatan perjalanan proyek 110 Messier ini akan terus diperbarui di landscape-indonesia.com
Clear skies, endless stories.