Ada bedanya, terasa langsung begitu mata mulai beradaptasi dengan gelap.
Dari selasar kost, langit di kanan kiri depan belakang selalu bersaing dengan lampu. Malam ini saya minggir ke tepi pantai, Pantai Samuh, Nusa Dua, mencoba langit yang setidaknya satu arahnya menghadap laut terbuka tanpa hambatan cahaya. Tidak sempurna, tidak gelap seperti Gunungkidul atau puncak Mahameru, tapi cukup berbeda dari rutinitas selasar kost.
Pantai ini tidak pernah benar-benar sepi. Di kejauhan beberapa senter berkedip, pemancing yang tidak peduli jam. Di sisi kiri beberapa pasang masih duduk mengobrol hingga tengah malam, mungkin menunggu berubah jadi putri duyung selepas jam 12. Saya pasang tripod di antara semua itu, diam, mendongak.
Bortle 5 dan Komprominya
Langit Nusa Dua malam ini masuk kategori Bortle 5, langit pinggiran kota, di mana Milky Way sebenarnya bisa terlihat tapi tidak pernah semegah di tempat yang benar-benar gelap. Pendar hotel-hotel di sisi selatan cukup kuat mewarnai horizon, sky glow oranye kekuningan yang tidak bisa diabaikan.
ISO 6400 yang biasa saya gunakan sebagai iso standart ketika memotret milkyway terlalu agresif malam ini, langit jadi overekspos sebelum detail Milky Way sempat terekam. Saya turunkan ke ISO 1600, pasang RF 16mm di f/3.5, biarkan tracker bekerja mengimbangi rotasi bumi.

Sebenarnya kurang ideal secara teknis, ISO rendah berarti sinyal dari bintang-bintang redup juga berkurang. Tapi di kondisi langit sepollusi ini, pilihan yang tersedia memang tidak banyak. Kompromi, seperti biasanya.
Sebelumnya sempat mencoba filter SV220 dual narrowband di lensa Sigma 35mm beberapa malam sebelumnya, hasilnya mengecewakan untuk Milky Way. Warna merah nebula memang muncul, tapi sebagian besar bintang dan gradasi warna galaksi justru hilang tersaring. Dual narrowband memang bukan untuk Milky Way wide field, ia bekerja untuk nebula spesifik, bukan untuk pemandangan galaksi secara keseluruhan. Pelajaran yang perlu dicoba sendiri untuk benar-benar dipahami.
Awan yang Tidak Bisa Disuap
Lebih dari 170 frame seharusnya bisa terkumpul malam itu. Tapi awan datang dan pergi sesukanya, beberapa kali Milky Way tertutup, saya biarkan tracker terus berjalan, berharap awan cepat berlalu. Pukul 4 pagi, awan semakin padat, dan keputusan untuk pulang diambil dengan damai.

Cukuplah.
Drama di Siril
Di kost, 170-an frame mentah menunggu untuk diproses. Ini bedanya dengan Dwarf 3 yang langsung menghasilkan file siap edit, kamera mirrorless dengan lensa wide butuh proses registrasi dan stacking manual di Siril, dan lensa wide punya karakteristiknya sendiri yang tidak selalu disukai algoritma registrasi: distorsi di tepi frame, perspektif yang berubah-ubah, bintang di pinggir yang mulai melar.
Percobaan pertama dengan setingan default, dari 170 frame, hampir sebagian saya pindahkan karena ada awan di setiap framenya, terkumpul 65 frame yang bisa di proses, itupun hanya 15 yang lolos registrasi. Terlalu ketat.
Saya turunkan parameter minimum star pairs menjadi 5, jalankan ulang, 45 frame berhasil masuk stack. Lebih baik, cukup untuk bekerja.
Satu tantangan tersisa: karena menggunakan star tracker, langit bergerak mengikuti rotasi bumi sementara foreground diam. Hasilnya di setiap frame, garis pantai dan pohon kelapa semakin bergeser dari posisi awalnya. Stack 45 frame menghasilkan langit yang tajam dengan Milky Way yang detail, tapi foreground-nya buram, berlapis-lapis seperti foto goyang.
Solusinya klasik: Photoshop, dua layer, satu masker. Frame pertama untuk foreground yang tajam, hasil stack 45 frame untuk langit Milky Way yang bersih. Keduanya digabung dengan masker di garis horizon, teknik yang sudah jadi standar untuk semua foto Milky Way dengan tracker.
Hasilnya, untuk proses singkat dari langit Bortle 5 di tepi pantai dengan lampu hotel di kanan kiri, cukup menarik.

Bukan foto sempurna. Tapi bukan juga foto yang malu-maluin.
Clear skies, endless stories