Ada sesuatu yang menyenangkan dari membuka folder di hard drive lama, seperti menemukan kembali foto-foto yang sudah dilupakan di lemari tua. Bedanya, yang tersimpan di sini bukan sekadar kenangan, tapi data mentah yang dulu tidak tahu cara membukanya dengan benar.
Gunungkidul, beberapa tahun lalu. Susur pantai beberapa hari bersama beberapa rekan dari Jogja, membawa semua peralatan perang untuk hunting langit malam. File-file RAW dari Canon 450D yang sudah dioprek, filter IR dilepas secara DIY, tidak sempurna tapi cukup untuk membuka jalur cahaya H-alpha yang biasanya tersaring. Waktu itu Siril masih terasa seperti bahasa asing, PixInsight dicoba tapi hasilnya tidak memuaskan, akhirnya folder-folder itu tersimpan dan terlupakan.

Pagi ini salah satunya akhirnya dibuka.
Kamera Tua, Lensa Tua, Data yang Ternyata Tidak Tua
12 frame dari Canon 450D mod, lensa 24-105mm di focal length 73mm. ISO 800, f/4, 60 detik per frame. Angka yang konservatif untuk standar sekarang, tapi waktu itu sudah terasa ambisius.
File dimasukkan ke Siril dengan script OSC_preprocessing_without_DBF, pilihan yang tepat untuk data tanpa dark frame dan bias terpisah. Setelah itu workflow yang sudah mulai terasa familiar: background extraction, denoise, astrometry plate solving, color calibration, StarNet star removal, stretch dengan Verlaxx Hypermety, lanjut ke Camera Raw di Photoshop, tutup dengan star recomposition.
Prosesnya sudah jadi otot.
Dan ketika hasil stretch pertama muncul di layar, saya berhenti sebentar.
Delapan Messier dalam Satu Frame
Bukan karena fotonya sempurna. Tapi karena ramai sekali isinya.

Di satu frame dari lensa 73mm itu, tersusun seperti koleksi permata yang berserakan di atas beludru hitam, ada delapan objek Messier sekaligus, searah jarum jam dari kiri ke kanan:
M28, gugus bola kecil di Sagitarius yang sering terlupakan karena berdekatan dengan M22 yang lebih terang
M17, Omega Nebula, atau Nebula Angsa, awan gas berbentuk huruf omega yang warna merahnya merekah di hasil foto ini berkat filter IR yang dilepas
M18, gugus terbuka kecil yang terjepit di antara tetangga-tetangganya yang lebih terkenal
M24, bukan gugus biasa, tapi jendela langsung ke lengan spiral galaksi kita, area padat bintang yang terlihat karena ada celah tipis di awan debu Bimasakti. Salah satu objek Messier yang paling tidak biasa karena bukan satu objek melainkan pemandangan ke kedalaman galaksi itu sendiri
M23, gugus terbuka yang bintang-bintangnya tersebar luas, lebar di langit
M21, gugus terbuka muda di Sagitarius, usianya baru sekitar 4,6 juta tahun, bayi kosmik dibanding usia tata surya kita
M20, Trifid Nebula, kabut yang terbelah tiga oleh jalur debu gelap seperti luka. Salah satu nebula paling fotogenik di katalog Messier
M8, Laguna Nebula, yang pertama kali saya proses dengan Siril beberapa minggu lalu, sekarang muncul lagi di frame ini berdampingan dengan teman-temannya

Delapan objek dalam satu frame. Dari kamera yang ISO 800-nya sudah mentok karena noise. Dari 12 frame yang beberapa tahun lalu tidak tahu cara mengolahnya.
Yang Berubah Bukan Datanya
Ini yang paling menarik dari membuka folder lama dengan kemampuan baru, datanya sama persis seperti malam itu di Gunungkidul. Cahaya yang sama, bintang yang sama, nebula yang sama yang sudah menunggu di sensor selama bertahun-tahun.
Yang berubah hanya cara membacanya.
Siril, workflow yang sekarang sudah terasa seperti otot, pemahaman soal background extraction dan color calibration yang dulu terasa seperti sihir, semua itu adalah kunci yang akhirnya membuka data yang sudah lama terkunci.
Pelajaran yang paling sederhana tapi paling mahal untuk dipahami: data yang baik tidak pernah basi. Yang basi hanya kemampuan kita untuk mengolahnya, dan itu bisa diperbaiki kapan saja.
Di hard drive, masih ada banyak folder lain dari Gunungkidul yang belum dibuka.
Mungkin ada lebih banyak kejutan yang menunggu di sana.
Clear skies, endless stories.