Kempcer perdana di Pantai Nunggalan

bulan terbit, ya benar, bulan terbit, saya seakan tidak percaya dengan apa yang ada di depan mata. di ujung sana, di kaki langit, berbatasan dengan laut, pendaran merah, seperti topi, bulat bagian ujungnya merona di langit yang belum terlalu gelap. tak berlangsung lama pendaran tersebut semakin naik, bulat sempurna. saya sepertinya baru pertama kali menyaksikan bulan purnama terbit dari ufuk timur.

moon rises

warna merah keoranye saat bulan baru terbit bukan sekadar keindahan, itu adalah efek Rayleigh scattering, di mana atmosfer bumi memfilter cahaya biru dan membiarkan panjang gelombang merah-oranye lewat. semakin rendah posisi bulan di cakrawala, semakin tebal lapisan atmosfer yang dilalui cahayanya, sehingga warnanya semakin hangat. bulan purnama juga tampak lebih besar saat berada di dekat horizon, ini dikenal sebagai moon illusion, sebuah fenomena persepsi optik yang hingga kini masih diperdebatkan para ilmuwan.

sebuah pesan lewat di lini masa thread,
Agenda sabtu-minggu ini camping di Nunggalan Beach
Ada yg mau joint ga, alat semua dari kami,, tinggal bawa diri aja,,
acaranya :

  • Bakar” ikan
  • gitaran
  • ngopi bareng
  • cerita”
  • bikin vidio estetik

saya pikir, eh ini tidak terlalu jauh dari kos, coba kontak saja siapa tahu beneran, 50k, tidak perlu bawa tenda, dapat ikan lagi. mantap. gong bersambut dan sabtu sore kami berjanji bertemu di parkiran salah satu villa yang memang menjadi meeting point sebelum turun ke pantai nunggalan.

ada sekitar 20 peserta mas yang ikut, saya batasi soalnya, ucap muhsin ketika kami bertemu di parkiran. sebagian peserta terdiri dari pria, dan hanya ada 5 wanita. rombongan turun terbagi menjadi beberapa kloter, saya ikutan kloter kedua.

perjalanan turun ke pantai cukup bikin dengkul gemetar, terutama yang terbiasa berjalan di tempat datar. pun cukup licin ketika ditapaki dengan sol sandal, saya musti lebih berhati-hati meletakan pijakan kaki di beberapa titik batuan yang tertutup tanah. sempat beberapa kali nyaris terpeleset, sehingga menjelang akhir perjalanan saya mengambil dahan pohon yang cukup kuat untuk dijadikan tongkat. sepertinya saya perlu mencari tongkat jalan kalau ada rencana perjalanan turun-naik bukit lagi ke depannya.

Pantai Nunggalan sendiri termasuk pantai tersembunyi di kawasan Uluwatu, Badung, tidak bisa dijangkau dengan kendaraan dan hanya bisa diakses melalui jalur trekking sekitar 15–20 menit. karakteristik ini yang menjaganya tetap sepi dan jauh dari keramaian turis, berbeda dengan pantai-pantai Bali selatan lainnya yang sudah padat infrastruktur.

sekitar 20 menit kami sampai ke sebuah lahan berumput, tertutup rindangan pohon pakis pantai sehingga angin tidak terlalu menderu. cukup luas lapangan rumput ini, dan sudah ada beberapa tenda lain yang berdiri di samping kiri dan kanan. tapi hati-hati, walau tempat ini rata berumput, banyak jebakan ranjau darat, kotoran sapi hahaha. untungnya sudah kering dan tidak berbau, tapi tetap saja musti hati-hati ketika melangkah atau mencari tempat duduk.

sayangnya matahari terbenam tanpa meninggalkan kesan, tidak ada bulatan sempurna di ufuk barat, tidak ada pendaran merah merona. matahari meninggalkan tugasnya tanpa perpisahan berarti. tapi mata saya mengernyit ketika melihat bulatan lain yang perlahan timbul dari ufuk timur, ini moonrise, salah satu momen berharga yang sering terlupakan.

entah mungkin karena anak kekinian lebih sering mengidentikkan senja hanya dengan matahari terbenam, padahal secara astronomis senja (twilight) adalah periode transisi antara siang dan malam yang mencakup dua peristiwa sekaligus: matahari turun di barat dan bulan naik di timur. mungkin juga karena bulan terbit tidak beraturan seperti matahari, kadang siang sudah muncul, kadang tengah malam baru muncul, tergantung siklus fase bulan yang berlangsung sekitar 29,5 hari. pada malam bulan purnama, bulan selalu terbit hampir bersamaan dengan matahari terbenam karena posisinya berlawanan 180° dari matahari dilihat dari bumi. saya bersyukur kamera sudah siap, tinggal mengatur komposisi, dan tak lama kemudian merekam pendaran merah perlahan naik sebelum tertutup awan.

setelah itu saya ingat tentang Komet C/2025 N1 PanSTARRS yang seharusnya, kalau kondisi mendukung, bisa terlihat di ufuk barat selepas matahari terbenam. PanSTARRS adalah nama survei teleskop di Hawaii (Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System) yang memang dikenal produktif menemukan komet, beberapa komet terkenal seperti C/2011 L4 dan C/2017 S3 juga ditemukan oleh program yang sama. komet paling mudah diamati saat berada di fase elongasi barat atau elongasi timur, yakni saat sudut pisahnya dari matahari cukup besar sehingga langit sudah cukup gelap sementara komet masih berada di atas horizon.

berbekal panduan AR dari Stellarium, saya arahkan lensa 70mm ke arah barat, sedikit ke kiri di bawah sabuk Orion. yupii, terlihat bulatan biru sedikit washed out karena pendar sang surya yang walau sudah tenggelam masih menerangi langit. koma komet, awan gas dan debu yang mengelilingi inti, memang cenderung tampak kebiruan karena hamburan cahaya matahari oleh partikel berukuran kecil. mencoba keberuntungan dengan mengambil sekitar 62 frame untuk di-stack nantinya, berharap bisa mendapatkan sedikit oleh-oleh dari kunjungan singkat komet PanSTARRS sore ini.

setelah dirasa cukup saya kembali ke lapangan yang berisi tenda. api unggun sudah menyala, selain memberikan kehangatan, api unggun di tepi pantai juga secara tradisional berfungsi sebagai penanda posisi bagi nelayan yang melintas di kejauhan. beberapa teman yang baru dikenal sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing: di sisi timur ada yang memotong ikan, beberapa mengulak sambal untuk dijadikan dabu-dabu, sambal khas Manado berbahan tomat, bawang merah, cabai, dan perasan jeruk nipis yang memang cocok menemani ikan bakar. di sisi lain beberapa sedang mengasah kayu untuk dijadikan tongkat panggang. ramai.

makan malam

setelah semua selesai, acara makan malam yang wow dimulai. masing-masing mendapat kertas makan, nasi, sambal dabu-dabu, dan lauk ikan atau ayam pilihan, terhidang di tengah. kami makan dengan lahap, beberapa bahkan antusias menambah lauk.

selesai makan, apalagi kalau bukan ngobrol sembari mencairkan suasana dengan alunan gitar dan lagu-lagu Indonesia populer. setelah itu saya mulai mengantuk dan tidur. beruntung semalam cerah, padahal semalam sebelumnya hujan lumayan deras mengguyur Bali, kemungkinan besar pengaruh sea breeze dan konveksi malam yang kerap terjadi di wilayah pesisir tropis seperti Bali, di mana perbedaan suhu laut dan daratan menciptakan siklus cuaca yang bisa berubah cepat dari hari ke hari.

pagi tiba, sunrise tidak terlihat karena tertutup tebing, sudut pandang yang terhalang formasi batuan kapur memang jadi karakter khas pantai-pantai di sisi selatan Bukit Badung. dan setelah kopi hangat yang disajikan barista ala pantai, saya berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.

acara kemping ceria perdana yang membuka kembali beberapa memori tentang persahabatan, tidur beratapkan bintang, dan juga pengingat bahwa kita perlu lebih mendekatkan diri ke alam untuk sekadar melepaskan penat rutinitas harian, sesuatu yang semakin susah dilakukan justru ketika kita tinggal di pulau yang dikenal karena keindahan alamnya sendiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top