Astro Camp | Pinggan | 12-13 September 2026

Langit merah berpendar berubah menjadi gelap, dan bintang bermunculan, sementara di siluet gunung Batur sesekali melintas cahaya lampu, membelah gelapnya malam. Beberapa tenda tampak berdiri di pinggiran kaldera Pinggan. Api unggun menyala, beberapa obrolan ringan tertangkap melewati udara, selarik putih tegak lurus di langit dan di tengah, sebuah teleskop berdiri mengarah ke satu obyek, Saturnus.

Astro Camp bulan ini bisa juga disebut sebagai milkyway farewell party karena selepas ini milkyway sudah terlalu rendah untuk diamati ketika masuk ke bulan baru berikutnya. Beberapa peserta berkeliling di antara api unggun, menunggu jagung bakar selesai disiapkan, sedangkan beberapa yang lain menunggu giliran untuk menikmati beberapa obyek malam yang bisa diamati menggunakan teleskop.

Dalam setahun beberapa event Astro camp di adakan oleh Celiztial, salah satu komunitas penggiat langit malam di Bali. Terkadang mengikuti momen langit yang sedang dicari banyak orang, bulan sebelumnya walau bukan Astro camp, tapi perseid meteor shower diikuti oleh banyak orang, bahkan infonya terpaksa menuntup pendaftaran karena keterbatasan waktu dan sumber daya. Tahun depan mungkin dengan persiapan lebih matang bisa lebih banyak lagi memfasilitasi yang berniat ikut.

Untuk event Astro camp kali ini sengaja mengambil tempat di sekitar Pinggan, dengan beberapa pertimbangan, polusi cahaya yang cukup minim, kondisi bulan yang redup, galaksi bima sakti yang tegak lurus selepas matahari terbenam dan selain itu pagi harinya bisa mendapatkan sunrise dengan latar belakang beberapa gunung.

Masing-masing peserta mendapatkan fasilitas tenda, matras dan sleeping bag, kecuali ada permintaan khusus untuk pasangan satu tenda berdua. Makan malam, snack dan kopi juga bisa dinikmati sembari menikmati langit berbintang.

Sore hari, pengamatan solar dengan luntz 50 menjadi salah satu kegiatan menarik sembari menunggu langit malam. Dari teleskop terlihat sun spot yang muncul di permukaan matahari, Prominensa, lidah api yang mencuat keluar dari permukaan matahari dan tertahan oleh medan magnet juga terlihat di beberapa titik matahari.

Beruntung malam itu cerah, sehingga dari matahari terbenam hingga tengah malam kami bisa menikmati ribuan kerlip bintang di langit. Milky way mampak seperti sebuah jalur pudar berwarna putih mencoret langit malam, cerah, tanpa ada kabut seperti minggu kemarin kami berkemah di Pinggan.

gelak tawa dan obrolan ringan menjadi salah satu penghangat malam itu. beberapa peserta sudah saling kenal, tapi sebagian besar baru pertama bertemu di event Astro camp ini. Jagung bakar hangat, mengeluarkan uap ketika diambil dari panggangan api unggun, berpindah ke mulut peserta, sebagai bahan bakar menunggu nasi goreng hidangan utama malam ini.

Di tengah, teleskop menjadi salah satu atraksi utama di Astro camp. Beberapa obyek malam itu kami amati langsung dari viewfinder teleskop, cincin yang mengelilingi saturnus, beberapa gugusan bintang dan juga deep sky obyek di sekitar bagian inti milkyway.

Menjelang tengah malam, beberapa peserta mulai masuk ke dalam sleeping bag, dan menutup tirai depan tenda dome. Ketengangan kembali datang, diselingi bunyi dengkuran yang serasi dengan irama musik serangga malam. Saya sendiri juga akhirnya menyerah kepada rasa kantuk, masuk ke dalam tenda Lafuma yang sudah berusia puluhan tahun ini.

Hawa dingin, rasa capek, perut kenyang menjadi salah satu resep alami untuk tidur yang nikmat. Walau akhirnya saya terbangun juga sekitar pukul tiga pagi. Keluar tenda dan melihat langit masih dipenuhi bintang. Target pagi ini, galaksi andromeda dan konstalasi orion.

Salah satu kendala utama yang saya hadapi di daerah pegunungan begini adalah embun yang datang dengan cepat melapisi lensa kamera. Saya hanya membawa satu dew heater, jadi hanya mengoptimalkan 1 kamera dan 1 smart teleskop. Sepertinya perlu mempertimbangkan untuk menambah dew heater, atau menggunakan hand warmer. Untuk hand warmer ini saya dapat masukan dari rekan rekan di grup SV dan terbukti ampuh, walau bukan untuk mengatasi embun di lensa, tapi untuk hal lain yang malah lebih berharga.

Langit mulai berubah warna, cahaya mulai merekah di ufuk timur. Posisi kamera saya rubah untuk mengabadikan perubahan gelap menuju terang dan tentunya bulatan sempurna sang surya.

Beberapa peserta sudah mulai keluar dari tenda, bertukar sapa dan menunggu kehangatan yang datang. saya sendiri walau kedinginann mulai merasakan ada sesuatu yang hangat, bukan hanya karena matahari yang sebentar lagi terbit. Setiap event punya masing masing cerita yang berbeda, tapi Astro camp kali ini punya pendaran matahari yang rasanya sudah lama tidak saya rasakan.

Selamat datang pagi, selamat datang warna warni kehidupan, dan tidak sabar untuk menunggu momen momen menarik lain yang bakalan datang dan hadir di masa depan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top