Senja di batas kota
Senja di batas kota
Slalu teringat padamu
Saat kita kan berpisah
Entah untuk berapa lama
Senja di batas kota
Slalu teringat padamu
Saat kita kan berpisah
Entah untuk berapa lama
Hahaha.. judulnya aneh kan, pano Bromo yang Benar tapi gagal.. apa pula itu maksudnya 😀
Penasaran ndak ? kalau penasaran silakan dibaca lebih lanjut ya.. kalau ndak penasaran lewati saja artikel ini, soalnya agak sebel campur seneng saja lihat foto ini
Sepanjang siang cuaca masih belum berubah, kabut masih menutupi desa Cemoro Lawang. Tapi kurang begitu berpengaruh juga sih soalnya selepas makan siang juga aktivitasnya tiduran merehatkan tubuh setelah malam sebelumnya sempat begadang. Sore hari juga masih belum berubah. Sembari ngemil biskuit dan menunggu matahari terbenam di salah satu sudut kebun, tapi ternyata mendung dominan membuat sore itu menjadi kelabu.
Setelah selesai tugas pendokumentasian event sepedaan untuk beberapa teman di Bromo, sekarang saatnya untuk menikmati waktu menikmati keindahan alam dengan lebih perlahan. Saatnya hunting pemandangan malam di Bromo.. yippiiii
Persiapan untuk kembali menyapa salah satu destinasi favorit kami sembari hunting keindahan alam pegunungan. Rasa-rasanya walau sudah ribuan foto tentang Bromo, selalu ada rasa untuk kembali ke sana lagi. Begadang @Bromo. 13-17 April 2015. Semoga malam kembali bertabur bintang
Seperti biasa, tanpa ada rencana dan dadakan, senin dan selasa kemarin beberapa teman LI mengadakan acara kemping ceria. Dan lokasi tujuan juga diputuskan sore hari sebelum keberangkatan. Walau sempat agak kawatir juga setelah sebelumnya kota jogja didera hujan deras dan angin cukup kencang membuat kami mengambil plan A berangkat, plan B ngumpul ngopi2 di salah satu sudut kota jogja saja.
Enaknya (walau ada juga sih ndak enaknya) fotografi digital adalah kita bisa melihat kembali foto-foto lama kita di harddisk lengkap dengan data exifnya. Jadi kita bisa gunakan file-file foto yang lama kita untuk belajar. Saya masih ingat dulu jaman masih pinjam kamera analog punya ayah saya musti mencatat satu-satu setinggannya supaya bisa digunakan untuk bahan pembelajaran.
Ini tenda kami di untuk malam ketiga. Posisi dua tenda dipayungi dengan flysheet yang kiri kanannya diikat ke kedua motor kami
Tripod, yang sejak tadi malam kami gunakan untuk mengabadikan pemandangan masih berdiri di luar tenda.
Sempat agak kecewa sebenarnya ketika kabut menutupi pandangan dari pos 3 Merbabu. Apalagi hawa dingin dan tiupan angin kencang benar-benar menyurutkan semangat untuk begandang menunggu sang bima sakti.
Sesekali menikmati pagi sembari menghirup udara segar dan sedikit berkeringat, tapi tentu saja tetap membawa kamera donk 😀 Ndak perlu harus jauh-jauh, keliling di sekitar tempat tinggal cukup kok. 30 menit berkeliling jalan kampung dan tentunya bonus menikmati keindahan mentari terbit.