Launching Theta V di Jakarta
Sore kemarin di salah satu sudut Cikini terlihat beberapa orang yang berkumpul. Utomo Widiyasa, salah satu dedengkot DCImaji dan juga […]
Sore kemarin di salah satu sudut Cikini terlihat beberapa orang yang berkumpul. Utomo Widiyasa, salah satu dedengkot DCImaji dan juga […]
Sebenarnya sudah bisa dibilang “terlambat” hari gini masih mengulas drone Dji Phantom 3 pro. Soalnya sudah beredar phantom 4 –
Pukul 11 malam, Bromo saat itu cukup cerah, bintang bertaburan di langit. Gunung Bromo juga terlihat bersih tanpa kabut. Bergegas
Bisa ndak sih memotret milky way dengan kamera poket? Pertanyaan yang mudah sih, dan jawabannya juga cuma dua, bisa ya
Sebelumnya saya pernah melakukan test lensa samyang 8 mm fisheye untuk memotret milky way dengan hasil yang kurang begitu memuaskan.
Minggu kemarin ketika mendokumentasikan festival makanan tradisional dan kebudayaan di Lanjak, saya mendapatkan banyak racun kamera dan video dari mas Nanang (Indonesia Nature Film Society). Videografer handal yang sudah melalang buana mendokumentasikan perumahan iklim di daerah-daerah terpencil. Salah satu yang langsung nyantol adalah lensa canon 35mm f1.4 mk Iinya.
Beberapa hari yang lalu Solo agak cukup cerah, maksudnya tidak turun hujan, karena memang semingguan ini hampir menjelang sore selalu diguyur hujan. Walau mendung kelabu masih banyak menutupi langit dan kemungkinan kami tidak bisa menyaksikan mentari terbenam di antara siluet gunung Merapi dan Merbabu. Sekalian untuk mencoba kemampuan kamera sony a6000 yang kami beli untuk hadiah ulang tahun ayah saya. O iya, ayah saya yang awal mulanya belajar fotografi dengan kamera analog. Saya salah satu yang sekarang meneruskan hobi memotretnya. Dan karena a6000 ini dipakai ayah saya jadi saya tidak terlalu banyak “mengoprek”nya cuma sekedar menggunakan fasilitas yang ada. O iya artikel ini bukan membahasan secara detail kamera sony a6000 ya, tapi hanya sebatas berbagi cerita penggunaan kamera sony a6000 untuk pemotretan di waduk Cengkli
Setelah beberapa kali percobaan memotret bawah air, ternyata memang semakin kita belajar semakin banyak merasa kekurangan kita. Tidak saja dari segi kemampuan tapi semakin banyak hal-hal baru yang seakan terbuka dan membuat kita merasa ternyata banyak sekali yang harus kita pelajari, terkadang sampai saya merasa, semakin banyak belajar, semakin terasa bodohlah kita #eaa
Salah satu lensa favorit saya untuk memotret orang adalah lensa samyang 35 f/1.4. Saya pernah menulis reviewnya di web Landscape Indonesia 4 tahun yang lalu. silakan di baca di sini:
https://www.landscape-indonesia.com/blog/photo/401-mencari-solusi-memotet-low-light
Siang tadi ngobrol ngobrol ngalor ngidul di grup wa. Salah satunya ngebahas mengenai penggunaan iso tinggi ketika memotret. Melanjutkan bahasan dari Aditia Rahajasa yang beberapa hari yang lalu, waktu ngumpul, sempat menunjukan hasil foto potret dari kamera 6D dengan iso 16.000 yang masih cukup halus
Untuk kedua kalinya kami melipir ke umbul Pongok. Kali ini kami membawa dua kamera, saya dengan G15 dan Adit Negro dengan go pro. Kali ini kami sudah cukup membekali diri dengan kepercayaan diri di dalam air #uhukk
Cuaca agak mendung ketika kami menceburkan diri ke air yang cukup dingin. Adaptasi dengan air lebih singkat dan kami sudah mulai bergaya-gaya di dalam air.