Beberapa bulan ini saya banyak menceburkan diri ke dunia astrophotography, salah satu yang membuat saya tertarik adalah H alpha region yang banyak ditemui di langit malam. H-alpha region ini biasa kita lihat di media sosial, membentang dari beberapa region, mulai dari sekitar Ro ophiuci, Orion nebula, Gum nebula dan Cignus area.
Table of Contents
Persyaratan Menangkap H alpha region
Yang membuat menarik untuk mendapatkan H alpha region tersebut kita membutuhkan beberapa persyaratan.
- Kamera yang sudah di astro mod sehingga lebih mudah menangkap H alpha. karena kamera bawaan pabrik biasanya sudah diberi filter yang menyaring H alpha.
- Perlu tambahan filter khusus, bisa menggunakan H alpha filter (narrow band) atau dual narrow band
- Butuh waktu yang lebih panjang untk mengumpulkan data H alpha region
- Butuh proses editing yang juga tidak mudah untuk bisa mengeluarkan warna merah H alpha region
- Perlu juga proses blending sehingga hasil yang didapatkan campuran antara RGB dan H-alpha
untuk saat ini saya sudah berhasil mendapakatkan
- area H alpha di orion
- area H alpha di sekitar Rho Ophiuci
- area H alpha di core milkyway
area H alpha ang belum di dapat (untuk sementara ini)
- Cignus area
- Gum nebula area
- bagian di atas orion
Workflow H alpha region
saya menggunakan beberapa workflow saat ini, tapi masih belum menemukan workflow mana yang paling sesuai. adapun peralatan yang saya punyai saat ini
- kamera canon 450D DIY astro mod
- filter dual narrowband sv220 ( 2” 7nm, 1,25” 7 nm dan 1.25” 3nm)
- step down 77 – 62 – 58 – 48. untuk pemasangan filter 2” di depan lensa
- DIY clip in adapter untuk filter 1.25” di bagian dalam lensa
- starypod nova untuk star tracker
- teseek 11 untuk star tracker
- beberapa tripod sirui
workflow yang sudah sempat dicoba
filter sv220 2” 7nm di depan lensa
ini salah satu yang paling mudah,tapi hasilnya kurang begitu bagus karena vignet yang cukup besar di hasil akhirnya. selain itu lensa paling wide yang saya punya yang bisa dipakai di 450D hanya 24mm, sehingga cukup terbatas setelah terpotong vignete hasil adapter.
menggunakan filter 2” 7nm punya kelebihan yang membutuhkan waktu lebih sedikit untuk menangkap H alpha region dibanding yang 3nm.
filter sv220 1.25” 3 nm di clip in filter
setelah beberapa kali percobaan dengan adapter di depan lensa dan hasilnya yang kurang memuaskan, berikutnya saya mencoba mencari alternatif lain. sayang yang ready stok di marketplace untuk filter sv220 yg 1,25” hanya 3nm. sempat mencari alternatif lain yang filter hanya H alpha (narrow band filter) tapi ternyata harus beli 1 set dengan harga 3jutaan. Sebelum membeli sempat bertanya dan mencari informasi di beberapa folrum online dan Ai. dan sebagian besar memang memberikan kesimpulan bahwa filter 3nm memang memberikan hasil dengan kontras yang lebih baik tapi dengan kompensasi waktu integrasi yang lebih lama. nah kendala utama yang saya hadapi kalau harus menggunakan kecepatan di bawah 2 menit adalah, awan yang sering tiba tiba muncul sehingga hasil foto yang didapat perframe jadi banyak yang tidak bisa digunakan.
filter sv220 1,25 7nm di clip in filter
akhirnya, setelah mencoba beberapa kali percobaan dengan filter 3nm dan saya putuskan untuk kembali mencoba dengan filter 7nm. dulu sebelum beli yang 3nm memang diinfo kalau perlu waktu sekitar 1 bulan untuk preorder filter 7nm. sayang belum sempat dicoba karena cuaca yang tiba tiba sering berubah dari cerah menjadi berawan. semoga dalam waktu beberapa hari mendatang bisa mencoba dengan filter 7nm ini.
Panduan Waktu & Posisi Pengamatan dari Bali
Waktu terbaik untuk mengambil data adalah saat objek berada di posisi tertinggi di langit (mendekati Zenit / Meridian Transit) untuk meminimalkan efek atmospheric extinction dan polusi cahaya di horizon.



