Langit semalam tidak kooperatif.
Dari pukul 9 malam, awan tebal sudah berarak menutupi hampir seluruh langit — tidak ada celah, tidak ada bintang, beberapa kali saya naik ke selasar, tapi langit sepertinya punya waktu tersendiri. Saya kembali duduk di kamar, menunggu, sesekali melongok ke luar dengan harap-harap cemas. Tapi langit tidak berubah pikiran malam itu.
Daripada membuang waktu, saya membuka hard drive dan mulai menggali arsip lama.
Gunungkidul, 2022
Selepas pandemi, ada perjalanan beberapa hari bersama beberapa rekan dari Jogja — melipir ke pantai-pantai Gunungkidul dengan satu tujuan: hunting langit malam dan merancang ide untuk workshop foto berbintang. Saya membawa hampir semua peralatan perang waktu itu. Transformer, tracker, 2 bod kamera dan beberapa lensa.
Fotonya ada. Tapi waktu itu saya belum cukup mahir mengolahnya. Sudah mencoba trial PixInsight — software pengolah foto astronomi yang terkenal powerful sekaligus terkenal tidak ramah pemula — tapi hasilnya tetap kurang memuaskan. File-file itu akhirnya tersimpan, terlupakan, menunggu waktunya sendiri.
Malam ini, tanpa sengaja, waktunya tiba.
Canon 450D yang Sudah Dioprek
Di antara tumpukan file lama, saya menemukan hasil jepretan Canon 450D — kamera tua yang filternya sudah saya lepas supaya sensor bisa menangkap lebih banyak cahaya H-alpha, panjang gelombang merah yang dipancarkan nebula tapi normalnya tersaring sebelum sampai ke sensor.

60 frame, masing-masing 90 detik. ISO 800. f/1.4. Lensa Sigma 35mm f/1.4.
ISO 800 — bukan karena pilihan, tapi karena memang batasnya di situ. Canon 450D dengan sensor lamanya tidak bisa banyak kompromi soal ISO: di atas 400 noise sebenarnya sudah tidak bisa dimaafkan. Dan memang ya mentok di ISO 1600. Jadi saya kompensasi dengan eksposur yang lebih panjang dan bukaan selebar mungkin.
Workflow editingnya saya jalankan hampir sama dengan workflow yang biasa saya pakai untuk hasil Dwarf 3 — perbedaan utama hanya di bagian awal: proses stacking dan konversi dari RAW ke format FITS. Setelah itu, kurang lebih jalurnya sama.
Dan hasilnya?
Jujur, saya cukup kaget.
Dari kamera tua dengan sensor yang usianya sudah lebih dari satu dekade, dengan ISO yang mentok di angka yang oleh standar sekarang terasa sangat rendah — detailnya keluar lebih baik dari yang saya bayangkan. Warna merah langit malam yang dulu tidak pernah muncul di hasil foto saya, sekarang ada di sana — bukti bahwa melepas filter memang membuat perbedaan yang nyata, dan bahwa kadang foto lama hanya butuh workflow yang lebih baik untuk akhirnya menunjukkan apa yang sebenarnya sudah terekam sejak dulu.

Foto-foto Gunungkidul 2022 itu tidak buruk. Saya yang waktu itu belum tahu cara membukanya dengan benar.
Semoga malam berikutnya langit lebih bersahabat — masih ada katalog Messier yang menunggu untuk diisi.
Clear skies, endless stories.