Filter dual narrow band sv220 sudah ditangan, saatnya untuk berkesperimen di langit malam. target pertama yang saya kejar tentunya milky way. obyek malam yang dari tahun 2010 lalu membuat saya terpesona dengan langit malam.
Berbekal kamera EosR, lensa sigma 35mm f/1.4, step down 67-48mm untuk filter sv220 dan tentunya tripod, saya mulai menunggu langit malam. Entah kenapa beberapa malam ini langit sering berawan tebal.
Begitu ada kesempatan, saya mengarahkan kamera ke arah bagian inti milkyway. tepat di antara ekor scorpion. setingan masih tetap sama 30 detik, iso 6400, f/2.8. kenapa tidak memakai f/1.4? karena dari beberapa rujukan yang saya baca, filter dual narrow bank sv220 ini lebih cocok digunakan untuk bukaan lensa f/4, kalau dengan f/1.4 tidak efektif. Jadi saya ambil titik tengah menggunakan f/2.8

Hasilnya cenderung underexposure, bahkan terkesan gelap. saya menyempatkan mengambil 23 frame sebelum langit kembali tertutup awan. saya cek di pc, ternyata memang sangat under exposure
Pertama saya bawa ke sequator untuk ditest, karena stacking di sequator lebih cepat. hasilnya setelah di proses cepat di photoshop, banyak detail yang terbuang karena vignette yang cukup besar.

Setelah itu saya coba stacking dan proses di siril. hasilnya lebih membahana, warna bagian inti milkyway yang biasanya cenderung redup ketika di stretch di siril menghasilkan warna merah menyala dan gelap pekat. bahkan beberapa nebula yang berada di bagian milky way terlihat jelas berwarna merah.

Karena memotret malam lebih cenderung ke arah seni, dan seni tidak ada yang salah, jadi milky way versi Hidrogen Alpha dan Oksigen III dengan filter sv220 ini saya anggap sah sah saja. tapi mungkin ke depan perlu dicoba menggunakan tracker yang lebih presisi, di durasi 2-3 menit supaya lebih banyak data milky way yang tertangkap kamera.
