Ada yang berubah sejak Nyepi.
Dulu, malam adalah waktu untuk di dalam kamar. Sekarang, setiap beberapa menit kaki ini bergerak sendiri — melangkah ke luar, mendongak, memindai langit. Kalau berawan, balik ke kamar. Sepuluh menit kemudian keluar lagi. Kalau cerah, baru deh peralatan lenong dikeluarkan semua: tripod, kamera, Dwarf 3, naik ke selasar lantai atas, pasang, atur, tunggu.
Menunggu di bawah langit malam ternyata punya kualitasnya sendiri. Kadang sambil baca ebook di Kindle, kadang cuma termenung — tapi kepala terasa lebih ringan. Pikiran yang seharian penuh sesak dengan urusan layar dan tenggat waktu, di bawah langit tiba-tiba punya ruang untuk bernapas.
Jam biologis pun sudah menyesuaikan diri tanpa diminta. Pukul 3 pagi, mata terbuka sendiri. Rutinitas yang sama setiap malam: keluar kamar, tengok ke atas, baca langit. Berawan atau cerah — itu yang menentukan apakah malam ini bekerja atau kembali tidur.
110 Objek, Satu Proyek Seumur Hidup
Dari obrolan dengan Rony — teman lama yang dulu mengenalkan saya pada gemerlapnya dunia malam — muncullah sebuah angka: 110.

Seratus sepuluh objek Messier — katalog astronomi yang disusun oleh Charles Messier pada abad ke-18, berisi galaksi, nebula, gugus bintang, dan sisa-sisa supernova yang bisa diamati dari bumi dengan teleskop kecil sekalipun. M8 Nebula Laguna yang saya abadikan beberapa hari lalu adalah salah satunya. Masih ada 109 lagi yang menunggu.
Ini bukan proyek yang bisa selesai dalam seminggu atau sebulan. Beberapa objek hanya muncul di musim tertentu, beberapa butuh kondisi langit yang sangat spesifik. Tapi justru itulah yang membuatnya menarik — ini lifetime project. Tidak ada tenggat waktu, tidak ada tekanan untuk sempurna di awal. Yang penting mulai, yang penting melangkah, dan biarkan waktu yang menentukan kapan ia dianggap selesai.
Apa adanya dulu. Kesempurnaan bisa menyusul.
Kali Mati, 2010
Tapi sebenarnya, benih ini sudah ditanam jauh sebelum Nyepi kemarin.

- Kali Mati, jalur pendakian menuju puncak Mahameru. Di ketinggian itu, di tengah dingin yang menggigit dan langit yang belum pernah saya lihat sebersih itu — untuk pertama kalinya saya melihat Bimasakti dengan mata telanjang. Selarik putih yang membentang diagonal di langit, seperti seseorang menumpahkan gula di atas beludru hitam.
Saya terdiam lama, ditemani kamera 450D yang terdengar berkali kali menjepretkan rananya.
Dari momen itu, cinta terhadap Milky Way tumbuh diam-diam. Beberapa buku tentangn milky way bahkan sudah diterbitkan. Ribuan foto dengan latar belakang milky way membawa saya berkeliling indonesia. Dan sekarang, belasan tahun kemudian, racun yang sama itu kembali mengalir — tapi kali ini lebih dalam, lebih serius, dengan target yang lebih jelas.
110 objek Messier. Dimulai dari selasar kost di Bali, dengan teleskop mungil dan langit yang tidak selalu bersahabat.