Seminggu sebelumnya langit seakan bersolek dengan gemerlap kerlip bintangnya.
Hampir setiap malam cerah, bintik putih tersebar di langit, kapanpun keluar kamar. Tapi begitu kalender menunjukkan 21-22 April, momen puncak hujan meteor Lyrid yang paling ditunggu, langit Bali berbalik arah. Mendung, gerimis, dan awan tebal yang tidak mau bergerak.
Semesta memang suka bercanda.
Tamu dari 2.700 Tahun Lalu
Hujan meteor Lyrid bukan sembarang hujan meteor. Ini adalah salah satu hujan meteor tertua yang pernah dicatat manusia, pengamatan pertamanya terdokumentasi di Tiongkok pada tahun 687 SM, lebih dari 2.700 tahun lalu. Setiap April, bumi melintasi jalur puing-puing yang ditinggalkan Komet Thatcher (C/1861 G1), komet dengan periode orbit 415 tahun yang terakhir kali melintas dekat matahari pada 1861 dan tidak akan kembali sampai sekitar tahun 2276.
Yang kita lihat sebagai goresan cahaya di langit malam sebenarnya adalah serpihan debu komet, sebagian besar tidak lebih besar dari butiran pasir, yang terbakar habis di atmosfer bumi pada kecepatan sekitar 49 kilometer per detik. Cahaya yang sekejap itu adalah nyala terakhir sebuah partikel yang sudah mengembara di tata surya selama ratusan juta tahun.
Puncaknya tahun ini jatuh pada dini hari 22-23 April, dengan prediksi 10-20 meteor per jam di kondisi ideal. Radiannya berada di dekat bintang Vega di rasi Lyra, muncul dari arah timur laut setelah tengah malam.
Pukul 3.30 Pagi, 15 Menit, dan Dua Goresan
Pukul setengah empat pagi saya terbangun. Refleks, berjalan ke luar kamar, kepala mendongak ke atas.
Beberapa bintang terlihat. Lantai terasa masih basah sisa gerimis semalam.
Cukup. Saya masuk kembali untuk mengambil kamera dan tripod.

Samyang 14mm diarahkan ke timur laut, sedikit mendongak ke atas menuju arah rasi Lyra. Setingan sederhana: 30 detik, ISO 1600, biarkan kamera bekerja sendiri. Tidak ada Dwarf malam ini, untuk memburu meteor, lensa selebar mungkin adalah senjata yang paling masuk akal. Semakin lebar bidang pandang, semakin besar peluang menangkap goresan cahaya yang datangnya tidak pernah bisa diprediksi.
Saya menunggu.

Dan datanglah, satu lintasan cahaya, dari utara ke selatan, kemudian satu lagi, masing-masing hanya sekejap. Tapi cukup jelas, cukup tegas, seperti seseorang menggores langit dengan kuku. Dua serpihan debu Komet Thatcher yang perjalanannya dimulai ratusan juta tahun lalu, berakhir dalam satu kedipan di atmosfer bumi 90 kilometer di atas selasar kost ini.
Lima belas menit. Hanya itu yang langit berikan malam itu.

Setelah itu gumpalan putih kembali datang dengan cepat dari timur, bintang tenggelam satu per satu, dan dalam hitungan menit langit kembali tertutup rapat. Peralatan dikemas cepat sebelum gerimis kembali turun, dan saya kembali ke kamar, ke dekapan selimut yang hangat.
Tidak banyak yang didapat secara teknis. Tapi dua goresan cahaya dari tamu yang hanya datang setahun sekali, dilihat langsung dengan mata dan terekam di sensor, itu cukup untuk malam ini.
Lyrid masih aktif hingga 30 April. Masih ada kesempatan, kalau langit mau berbelas kasih satu malam saja.
Clear skies, endless stories.