Malam pertama dapat dua goresan dalam 15 menit sebelum awan menutup langit. Malam kedua saya all in, dan langit memberikan sesuatu yang sama sekali berbeda dari yang diharapkan.
Persiapan yang Lebih Serius
Selepas matahari terbenam langit sempat cukup cerah. Saya sudah naik ke selasar, pasang Dwarf, pasang kamera dengan Samyang 14mm. Tapi seperti malam malam yang lain, tidak lama kemudian awan kembali menutup. Saya turun, masuk kamar, beberapa saat kembali ke luar tapi tidak berubah. Dan selepas tengah malam saya menarik diri masuk ke dalam selimut.
Mata terbuka, mencari handphone, pukul 3 lewat sedikit.
Langit di luar agak cerah, awan masih ada di sekitar kaki langit, tapi di atas cukup terbuka. Lyrid aktif hingga 29 April, tapi puncak sejatinya sudah lewat kemarin dini hari pukul 03.15 WITA, malam ini mungkin lebih sepi, tapi masih layak dicoba.
Mumpung agak cerah, kali ini saya tidak mau setengah-setengah.

Empat alat sekaligus: kamera pertama dengan Samyang 14mm menghadap timur laut, ke arah rasi Lyra yang menjadi titik radian meteor, kamera kedua dengan Canon 16mm ke arah timur, GoPro menghadap barat laut, dan handphone ke arah timur. Semuanya disetel timelapse, dikunci, ditinggal bekerja sendiri.
Saya menggelar matras, berbaring, menatap langit langsung lewat mata.
Menunggu Kamehameha yang Tidak Datang
Lyrid dikenal sebagai hujan meteor yang cepat dan terang, kecepatannya mencapai 49 kilometer per detik saat membakar diri di atmosfer, sering meninggalkan jejak asap tipis beberapa detik setelah berlalu. Di kondisi ideal, 10 hingga 18 meteor per jam bisa terlihat.
Malam ini kondisinya tidak ideal, tapi tidak buruk juga.
Saya menunggu. Mata memindai langit dari satu sudut ke sudut lain, ke timur laut di mana Vega dan Lyra sedang naik, ke atas di mana bintang-bintang paling padat. Menunggu goresan cahaya itu, kilatan yang datang dan pergi dalam sepersekian detik.
Tidak ada.
Satu jam. Dua jam. Menjelang fajar, tetap tidak ada. Empat kamera yang bekerja sepanjang malam itu pun tidak menangkap satu lintasan pun. Zonk total, berbeda 180 derajat dengan malam sebelumnya yang hanya 15 menit tapi berhasil mendapat dua goresan.
Begitulah hujan meteor: tidak ada yang bisa dijanjikan. Puncaknya sangat sempit, bahkan selisih satu malam bisa berarti perbedaan antara dapat puluhan meteor atau tidak dapat satu pun.
Tapi Selalu Ada yang Bisa Disyukuri
Selagi langit pelan-pelan terang di timur dan harapan meteor semakin tipis, mata saya menyipit seolah mencari pembenaran.

Cahaya merah merekah di ufuk timur, bukan cepat, bukan tiba-tiba, tapi perlahan seperti seseorang menyalakan lilin raksasa di balik cakrawala. Warnanya dalam, hampir oranye, melebar ke kanan dan kiri sebelum akhirnya naik menjadi keemasan. Langit seperti terbakar, gradasi warna kuning – biru muda dan biru pekat menghiasi langit timur.
Dan di ujung timur, di balik gradasi warna langit yang berubah-ubah itu, muncul siluet yang terasa tidak nyata: puncak Gunung Rinjani, berdiri tenang dengan konturnya yang tegas dan familiar.

3.726 meter di atas laut, terlihat dari selasar kost di Bali pagi ini, seperti teman jauh yang sengaja datang untuk menghibur.
Meteor Lyrid tidak muncul malam ini. Tapi matahari terbit dengan Rinjani di samping nya adalah hadiah yang datang dari arah yang tidak terduga, seperti hal-hal terbaik dalam astrofotografi, dan mungkin dalam hidup secara umum.

Empat kamera timelapse yang tadi dibiarkan bekerja sepanjang malam? Setidaknya ada matahari terbit yang membahana untuk dibawa pulang.
Clear skies, endless stories.