Astro Camp | Bali | 5D4N | Batur | Pinggan | Tianyar | Tulamben

Awal September 2026 kemarin, saya menyempatkan untuk kembali membawa tenda berkeliling bali, dengan target mengabadikan milkyway dan gelapnya langit di beberapa daerah tengah dan timur bali. Mumpung milky way masih terlihat, sebelum oktober pertengahan perlahan bagian intinya terbenam.

Perjalanan dimulai dari Kintamani, sekalian ada proyek love is in the air, sunrise trip dengan target suprise lamaran sepasang kekasih. Dari gunung Batur, kami naik ke arah Pinggan, masih di sekitar Kintamani juga, tapi dengan view dari sebelah timur. Setelah itu mulai turun ke arah bali timur, padang sabana Tianyar. Salah satu tempat yang direkomendasikan founder Celiztial sebagai tempat favorit menikmati gelapnya malam. Sisa semalam lagi kami pergunakan untuk bermalam di Tulamben, sebelum kembali ke rumah.

Rencana awal mau mencoba di sekitar danau Batur, tapi saat menuju ke sana, berhenti di salah satu view point yang lapang dengan punggungan gunung batur dan langit bertabur bintang. Rencana yang awalnya mengambil beberapa frame tampaknya malah mager dan sampai menjelang pukul 10 malam masih di sana. Sempat beberapa kali awan datang dan pergi. Setelah itu kembali ke penginapan, rehat dan tidak lupa memasang alarm karena jadwal pagi ini jam 3 kami berangkat dengan jeep ke salah satu titik pengamatan sunrise.

Perjalanan dengan jeep menuju sunrise viewpoint hampir tiap pagi selalu ramai, entah berapa ratus jeep yang setiap pagi merangkaki jalan berdebu gunung Batur demi melihat sang surya menyapa dari balik kabut. kalau beruntung bisa mendapati kintamani yang ditutupi lautan awan, atau kalau lagi kurang beruntung hanya ada semburat langit merah sebelum bulatan sempurna sang surya mengawali hari.

stargazing di batur
acara berjalan lancar, sesi pemotretan untuk kejutan Sirius walau sempat diwarnai ketegangan karena kabut yang datang menutupi langit menjelang mentari terbit, maupun rencana yang tidak berjalan sesuai arahan awal. kami semua tersenyum lega, dan saatnya untuk melanjutkan chapter berikutnya, Astro camp ke beberapa tempat di Bali.

view dari kolam air panas

Kami mengememasi peralatan yang sengaja ditinggal di sebuah penginapan murah meriah tapi fasilitas maksimal, ada kolam air panas dengan view danau batur dan gunung abang. Dan tentunya sekalian mandi air panas sembari menikmati bika ambon yang bukan dari ambon, sembari berdiskusi tentang rencana beberapa hari ke depan.

berkemah di tepian pinggan

Destinasi berikutnya, punggungan kintamani di sekitar Pinggan, kami belum memutuskan lokasi pastinya, tapi sudah ada beberapa target, salah satunya adalah glamora, di pinggan. saya pernah beberapa waktu lalu di sana, sebelum pengamatan hujan meteor perseid bulan lalu. view dari sini bisa langsung melihat gunung batur, gunung abang, gunung agung, dan kalau beruntung siluet gunung rinjani. tempat ini lebih sering ramai ketika menjelang matahari terbit, karena memang posisinya terbuka langsung ke arah timur. tapi kalau malam, di bulan agustus September kemarin, kita masih bisa menikmati milkyway dengan posisi tegak lurus, dan condong ke arah barat sebelum meninggalkan langit malam.

malam di pinggan

Lokasi ini juga cukup luas untuk menampung beberapa tenda, dengan fasilitas toilet, listrik dan juga warung makan dan penjaga yang tidur di lokasi, jadi cukup aman. Kami mendirikan tenda di salah satu sisi yang berhadapan langsung dengan view luas gunung batur, motor kami parkir di samping tenda. saya membawa tenda kecil yang muat untuk 2 orang yang saya beli selepas dari perjalanan ke gunung semeru 2010 lalu dari salah satu produsen alat gunung di Bekasi. dan awet sampai sekarang, masih sering saya gunakan bermalam di bawah langit berbintang.

kabut menutup pandangan di pinggan

Sayang cuaca saat itu selepas matahari terbenam tertutup kabut tebal. kami menghabiskan waktu dengan ngobrol di warung, menyeruput kopi bali yang sebentar sudah dingin, serta bercakap tentang apa saja. sekitar pukul 10 malam langit terbuka, tapi kendala yang saya temui, lensa cepat sekali berembun, tidak sampai 10 menit, embun tipis sudah menutupi lensa. jadi lupakan untuk menggunakan tracker supaya bisa mendapatkan data yang cukup, karena 1 menit saja lensa sudah harus diusap. saya hanya membawa 1 dew heater, padahal ada 3 kamera yang saya bawa. jadinya yang kurang begitu efektif.

menunggu sang surya di pinggan

Pagi harinya, kami bangun sembari menunggu mentari yang terbit dari ufuk timur, semburat oranye memenuhi langit, siluet punggungan gunung beradu dengan pendaran cahaya pagi hari.

Setelah mulai terik, kami berkemas, tak lupa menjemur beberapa perlengkapan di bawah hangatnya mentari. tujuan kami berikutnya savana tianyar, salah satu destinasi favorit yang sering saya dengar tapi baru kali ini beruntung ke sana. di peta terlihat dekat, karena pinggan di atas punggungan yang kalau di lihat di peta tinggal “mlorot” ke timur sampai ke daerah pantai. tapi kenyataan di lapangan, ada beberapa alternatif jalan. yang dulu sempat saya coba, jalan yang langsung dari kintamani, turun ke bawah, tapi terlalu curam. atau agak memutar, lebih jauh tapi lebih aman. kata kunci kalau menggunakan google maps untuk daerah yang belum pasti, pakai traffic mobil, jangan motor, kalau motor sering potong ambil jalan tercepat yang kadang jalan kecil dan kurang aman. kalau menggunakan jalan mobil, biasanya jalan besar dan cukup aman, walau jatuhnya lebih jauh.

Dari daerah dingin, turun memasuki kawasan dataran rendah dan pantai langsung di sambut hawa panas. Karena tiba di lokasi masih sekitar siang hari, jadi kami memutuskan untuk mencari warung makan, dan disarankan untuk mampir ke warung cik bunk, salah satu warung di tepi pantai tidak terlalu jauh dari tianyar. menu nya bervariasi, dan yang nyaman, karena dekat pantai, jadi bisa sembari istirahat menunggu savana Tianyar tidak panas sembari mengisi perut.

berkemah di savana tianyar

Savana tianyar ternyata terdiri dari beberapa petak2 padang rumput. dan kami menempati padang rumput yang posisi agak di tengah. tapi agak sedikit kesulitan mencari tempat yang datar, sedikit batu biar tidur lebih nyenyak. Setelah dirasa dapat yang sedikit lebih rata, tenda mulai didirikan, peralatan memotret mulai dipasang sembari menunggu langit semakin gelap. perlahan bintang terlihat di langit dan gugusan putih melintang di atas, galaksi milkyway yang menjadi target Astro camp terlihat tegak lurus di antara siluet gunung agung dan gunung abang.

hunting malam di savana tianyar

Sayang di depan kami dari sore tadi rombongan pekerja dengan bulldozer sedang memperbaiki jalan, lampu terang membuat bagian bawah menjadi over. saya terpaksa mengakali dengan menaikan komposisi agak ke atas supaya cahaya yang terekam tidak mengganggu hasilnya.

kuda berkunjung ke tenda

Yang agak cukup random, ketika memotret malam, datang kuda, walau bukan kuda liar, ke arah tenda kami. sepertinya penasaran ada apa ini kok ada yang malam malam bikin tenda di savana. eh ternyata kuda nya minta jatah salt cheese hahaha. beberapa kali terlihat membongkar bongkar tas yang tadinya memang untuk tempat salt cheesenya.

Selepas milkyway, target berganti ke orion nebula. cuaca malam itu sangat bersahabat, berbeda dengan malam-malam sebelumnya di kintamani yang diisi awan dan masalah lensa berkabut. di tianyar, langit cerah dari siang sampai pagi, lensa juga aman tidak ada embun. entah berapa ratus frame yang saya dapatkan malam itu dari beberapa kamera.

sunrise di savana tianyar

Pagi harinya, kami berkemas kembali, membongkar tenda dan mengemasi peralatan memotret, sebelum matahari membakar padang rumput dengan terik cahayanya.

Target hari ini di sekitar padang rumpun Nusu, yang tidak terlalu jauh dari tianyar. tapi karena belum pernah jadi kami survey lokasi dulu, memungkinkan tidak untuk bermalam, dan apakah perlu cari penginapan karena setelah di pinggan dan tianyar, baterai kamera dan powerbank sudah mulai menipis, jadi perlu cari tempat untuk charging station sebelum hunting malam harinya.

Sabana nusu ternyata lebih menarik, karena view gunung agung terlihat lebih dekat, selain itu ada jalan besar yang saat itu sedang ada umbul umbul sehingga menarik untuk dijadikan foreground dan leading line milkyway.  Tapi seperti di tianyar, lokasi terbuka, jadi kurang nyaman kalau dari siang hari sudah mendirikan tenda. dan lebih rekomendasi di tianyar sih, karena masing masing petak ada pengelolanya, dan juga ada fasilitas kamar mandi.

Setelah pertimbangan malam nanti ke nusu, kami putuskan untuk mencari lokasi menginap di sekitar tulamben. dan beruntungnya lagi, saat itu mas Indra, salah satu kenalan lama saya ketika di relawan WWF jogja sedang ada di sana, guiding dive.

diving tulamben

Setelah ketemu, malah menawari untuk sekalian diving di liberty wreck, tulamben. ya sudah dari Astro camp, sekalian diving di tulamben hahaha.

Sore harinya kami kembali ke savana nusu, mengambil beberapa frame yang sudah direncanakan tadi pagi, dan kemudian kembali ke penginapan. berhubung cuaca malam itu masih cerah, saya mencoba mencari beberapa alternatif lokasi di sekitar menggunakan google maps. satu lokasi ternyata sudah tertutup aksesnya untuk malam hari karena ditutup pagar.

Jadi sayapun kembali menyusuri beberapa jalan untuk mencari langsung lokasi buat hunting malam hari. Ketemu satu lokasi yang cukup gelap tidak jauh dari jalan besar. Tapi karena angin cukup kencang sehingga saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan dan mencoba hunting di sekitar pantai dekat penginapan saja mumpung andromeda dan orion sudah bisa dilihat di sisi timur.

menjelang matahari terbit | Tulamben

Sepulang dari Astro camp, berserak ribuan frames yang perlu dicek, diproses, dan dijadikan menjadi kumpulan catatan perjalanan yang jadi sebuah chapter perjalanan di bali.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top